Senin, 30 November 2020

Ayo Menjadi Muslim Yang Produktif



Apa itu produktif? 

Produktif adalah kata sifat dari produksi, artinya mampu menghasilkan. Jadi orang yang produktif adalah orang yang menghasilkan karya, menghasilkan keuntungan atau memberi manfaat bagi orang lain. 

Produktivitas itu terbentuk dari kemauan, dan akan berkembang dengan usaha, belajar dan kerja keras. 

Kemauan juga tidak tumbuh begitu saja tapi harus ada dorongan yang menggerakkan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. 

Dorongan dari dalam diri sendiri contohnya seperti ingin mengubah nasib, menjadi orang yang lebih baik atau ingin bermanfaat dan membahagiakan orang lain. 
Dorongan dari luar contohnya terinspirasi dari orang lain, mendapat motivasi dari orang lain atau dari ajaran agama. 

Islam mendorong manusia untuk hidup produktif dan bermanfaat. 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ  وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Surat al-insyirah ayat 7-8 mengajarkan manusia untuk menjauhi sikap malas. Mereka dituntun untuk memanfaatkan waktu yang diberikan dan mengisinya dengan hal-hal bermanfaat. 

Coba kita perhatikan, setelah melakukan satu urusan manusia didorong untuk melakukan hal lain tanpa bermalas-malasan. 

Karena sikap malas akan melenyapkan berbagai kesempatan. Menyia-nyiakan waktu akan mengakibatkan ketertinggalan dalam berbagai aspek. 


Ayo bekerja! 



Manusia diberi kemampuan untuk melakukan banyak hal, diberikan energi dan kreatifitas untuk menciptakan karya-karya besar yang memajukan kehidupan mereka. 

Manusia diberi karunia berupa akal yang  kecerdasannya terus berkembang dari waktu ke waktu sehingga berhasil membangun peradaban maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir hingga sekarang. 

Orang-orang yang cerdas dan pekerja keras akan selalu mengeksplorasi kemampuan dan kecerdasan mereka tanpa batas waktu dan usia. 

Di negara-negara maju, semakin tua usia seseorang maka ia akan semakin matang, kreatif dan produktif. 

Masa muda digunakan untuk bekerja keras, masa tua juga digunakan untuk menikmati kesuksesan dengan melanjutkan kerja keras bukan berleha-leha atau beristirahat. 

Hal ini senada dengan kata Al-Quran surat at-taubah ayat 105:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Mari kita tengok negara maju yang berkembang pesat saat ini. Salah satunya adalah negara china yang melaju cepat menjadi negara adidaya baru berkat kegigihan dan kerja keras masyarakatnya. 

Mereka mulai mewujudkan mimpi dan cita-cita mereka "everything is made in China by 2025" dengan tak henti berkreasi dan berinovasi. 

Coba lihat barang-barang yang kita gunakan dan kita beli selama ini. Hampir semua  berlabel "Made in China". Label ini kita temui di mana-mana, di berbagai jenis barang dengan kualitas bagus dan harga murah. 

Saat masyarakat China ditanyakan tentang kunci kesuksesan mereka dalam membangun perekonomian raksasa yang telah menguasai pasar dunia. Mereka hanya berkata " kami lebih cepat dan kami lebih bekerja keras". 

Mereka terus mengembangkan kemampuan di segala bidang, dan hasil pencapaian memang tak pernah mengkhianati usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan. 

Nah, bangsa China di sini hanyalah sekedar contoh bagaimana negara berkembang ataupun seseorang dapat memperoleh keberhasilan lewat kreativitas, produktivitas dan kerja keras. 

Yang diraih oleh orang-orang sukses adalah buah kerja keras yang melampaui orang-orang lainnya. Mereka bergerak cepat mengambil kesempatan, mengalahkan rasa malas, tak gampang patah atau menyerah, mengerahkan seluruh kemampuan dan tak banyak bersantai. 

Dalam at-taubah 105 Allah menggugah umat Islam untuk bergerak maju mengejar ketertinggalan, bangkit dari keterpurukan dan memupuk harapan. Karena sebuah kesuksesan itu diawali dan disertai harapan. 

Kita tak perlu malu untuk meniru umat yang lain. Karena bagi orang beriman setiap langkah dan kerja kerasnya bernilai ibadah dan kelak akan mendapat balasan. 

Kerja keras dalam belajar, berkarya, berinovasi, membangun perekonomian skala kecil atau skala besar, memajukan pendidikan, menegakkan keadilan, melestarikan lingkungan, melayani masyarakat dan lain-lain haruslah dilandasi dengan ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah. 

Karena Allah Swt akan menilai dan membalas segala kerja keras kita di dunia sesuai dengan niat dan keikhlasan kita seperti diingatkan dalam ayat di atas. 


Jangan malas! 



Nabi Saw mengingatkan dalam hadits berikut tentang pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena tiap detik waktu yang kita lewati itu tak akan kembali. 


اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang matimu.

Terlalu banyak bersantai dan bermalas-malasan adalah penyebab kegagalan terbesar dalam banyak hal. 

Dengan kata lain malas bekerja dan malas beribadah itu sumber kegagalanseorang muslim di dunia maupun kegagalan di akhirat. 

Hal ini ditegaskan kembali dalam surat al-ashr:

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا 
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. 

Nah, kawan-kawan.......... Yuk, menjadi muslim yang produktif dalam berbagai bidang
Mari kita niatkan sebagai ibadah li i'lai kalimatillah dan pengamalan ayat-ayat alquran. 






Sabtu, 28 November 2020

JANGAN MELIHAT BUKU DARI COVERNYA


Jangan menilai buku dari covernya! 

Sepertinya ini adalah salah satu peribahasa yang unik dan relevan dengan keadaan masyarakat kita sekarang ini yang kebanyakan masih suka menilai orang dari penampilannya. 

Karena sering kali penilaian yang hanya berdasarkan penampilan itu salah, dan  termasuk suudzon atau berprasangka buruk. 

Ada pengalaman pribadi penulis yang memberi pelajaran tentang hal tersebut. 

Tahun 2012 silam saat penulis beserta keluarga kecil balik mudik dari Jawa Timur ke Bekasi Jawa Barat. Kami singgah di sebuah masjid di Yogyakarta saat dini hari untuk beristirahat dan menghilangkan penat. 

Masjid itu terletak di sebelah kiri jalan raya. Agak jauh di sisi jalan terdapat barisan ruko yang sudah tutup. Suasananya gelap gulita. Namun disebelah deretan ruko tersebut nampak ada satu bangunan temaram oleh lampu kelap-kelip berwarna-warni. 

Terdengar alunan suara musik pop yang memecah kesunyian dari sana. 

Sesekali ada beberapa pria keluar masuk. Namun yang menjadi perhatian kami saat mengamati suasana sekitar dari dalam mobil adalah keluarnya pasangan laki-laki dan perempuan berpakaian terbuka dengan bermesraan. 

Meskipun jaraknya agak jauh namun nampak jelas karena cahaya bulan yang sesekali muncul. Karena itu kami berkesimpulan kalau tempat itu adalah tempat karaoke atau bar. 

Karena pak supir terlampau capek maka kami putuskan untuk memasuki gerbang masjid. 

Masjid itu lumayan agak luas dengan beberapa pohon di depannya

Ternyata di sisi sebelah masjid ada sekerumunan anak muda yang sebagian nongkrong di sepeda motornya. Mereka asik mengobrol sambil menghisap rokok. Rata-rata pakaian mereka khas anak muda jalanan dengan kaos pendek dan celana pendek atau celana jeans berlubang bagian lututnya. 

Saat turun dari mobil rasanya kurang nyaman berada di masjid itu. Kami  diperhatikan oleh mereka. 

Entah itu anak-anak jalanan atau remaja masjid. Tapi kalau melihat pakaiannya setiap orang pasti berpikir mereka adalah berandalan yang kebetulan nongkrong di masjid. Lalu ke mana penjaga masjidnya?. 

Karena ingin ke kamar mandi yang terletak di ujung masjid pas di belakang anak-anak muda itu berkerumun penulispun memberanikan diri bertanya. 

Dan tak disangka ternyata mereka menjawab dengan sopan. Bahkan setelah selesai dari kamar mandi salah satu dari mereka menghidupkan lampu satu sisi masjid, menggelarkan tikar serta mempersilahkan kami untuk istirahat. 

Setelah dikonfirmasi ternyata mereka adalah remaja sekitar yang berjaga agar masjid tidak dimasuki orang-orang mabuk dari seberang jalan. 

Itulah sekelumit pengalaman yang mengajarkan bahwa kadang kenyataan tak sesuai dengan yang terlihat, isi tak sesuai penampilan luarnya. 

Pengalaman lain datang saat penulis mengantarkan pesanan baju sambil mendorong kereta adik bayi yang masih berumur sekitar 5 bulan ke rumah seorang tetangga yang sangat agamis dari segi penampilan.  

Setelah mengucapkan salam di depan rumah ternyata yang keluar adalah seorang laki-laki. Namun bukannya menjawab salam tapi dengan kasar dan muka masam ia menanyakan ada apa. 

Tentu bagi seorang ibu-ibu yang bertamu baik-baik untuk keperluan mengantar pesanan sambil menggendong seorang bayi ini kurang mengenakkan. 

Alangkah baiknya jika salam dijawab dan ditanya keperluannya dengan sopan. Karena di komplek perumahan yang di jaga satpam selama 24 jam yang bisa bertamu pastilah hanya tetangga atau orang yang telah diverifikasi. 

Pengalaman lainnya datang dari beberapa tetangga yang juga mengisahkan hal-hal tak terduga. 

Pada bulan Ramadhan seorang tetangga laki-laki sedang bepergian dan pulang menjelang maghrib. Di tengah jalan tiba-tiba hujan deras turun dan memaksanya harus berteduh bersama beberapa musafir yang kehujanan di sebuah masjid. 

Ternyata di masjid tersebut sedang diadakan acara buka bersama. Sekelompok orang laki-laki dan perempuan berpakaian muslim-muslimah dengan penampilan sangat baik dan religius lalu lalang, berkumpul dan bersiap-siap  menyiapkan menu berbuka. 

Saat azan maghrib berkumandang ia mengira akan mendapatkan setidaknya segelas air mineral untuk berbuka bersama para musafir lainnya yang berteduh dari hujan. 

Namun sayangnya tak ada sapaan atau bahkan air untuk berbuka dari para jamaah masjidnya sampai sholat maghrib usai. 

Para musafir hanya menyaksikan jamaah masjid tersebut berbuka puasa dengan berbagai makanan dan minuman tanpa ada yang menghiraukan dan menawarkan. 

Miris, pada bulan Ramadhan seteguk air untuk orang yang berpuasa itu sangat besar pahalanya. Sapaan salam dan keramahan bagi pengunjung yang ikut sholat berjamaah akan sangat besar artinya. 

Ternyata ada kabar dari orang-orang sekitar bahwa masjid tersebut memang didominasi oleh satu kelompok tertentu. Mereka kurang berkenan jika ada pengunjung yang tak sepaham atau beda penampilan. 

Nah, pengalaman yang lain datang dari tetangga perempuan yang marah-marah karena dilarang untuk sholat maghrib di sana saat singgah dari pulang kantor. Sebabnya adalah karena ia tidak berkerudung meskipun memakai pakaian sopan. Yang boleh sholat di masjid itu hanya wanita-wanita yang sudah berpakaian syari menurut mereka. 

Nah, lo kesan pengalaman-pengalaman di atas bertolak belakang ya. 

Orang yang penampilannya kurang baik bisa jadi berhati baik dan berakhlak mulia. 

Orang yang penampilannya sangat baik bisa jadi tidak ramah dan kurang menghargai sesama muslim lainnya. 

Allah berfirman dalam al-hajj:37:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. 

Dari ayat di atas kita pelajari bahwa ketakwaan dalam hati itu lebih bernilai dan menentukan di sisi Allah dari segala hal yang bersifat materi. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al-hujurat:13) 


Takwa dan akhlak mulia


Ketakwaan dalam hati adalah kunci memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dan ketakwaan tidaklah tercermin dari penampilan luar. Karena ketakwaan itu ada dalam hati, dan hanya diketahui oleh Allah Swt. 

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian. (HR. Muslim) 

Ketakwaan memang tak terlihat namun ia bisa terpancar dari tingkah laku seorang muslim, semakin tinggi imannya semakin baik pula akhlaknya. 

 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِ.

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya. 

So, penampilan dan pakaian bukanlah tolok ukur ketakwaan pada Allah. Jadi tidaklah bijak jika kita menilai seseorang dari dua hal tersebut. Apalagi menganggap bahwa nilai kita di sisi Allah lebih baik dari orang lain. 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari uraian ayat dan hadits di atas:

1. Tidak boleh menilai orang lain dari penampilan luarnya karena kalau tidak benar maka bisa jatuh pada perbuatan suudzon. 

2. Ketakwaan tidak ditentukan oleh penampilan luar. Seperti cover sebuah buku, ia tidak menentukan kualitas buku. 

3. Ketakwaan dicerminkan oleh akhlak yang mulia. 

4. Tidak boleh merasa lebih baik dari muslim lainnya. 

5. Pakaian dan penampilan memang bukan tolok ukur ketakwaan. Tapi pakaian dan penampilan yang baik digunakan semata untuk menjalankan perintah agama, sebagai bagian dari syiar, sebagai jembatan menuju proses menjalankan agama dengan lebih baik. 

6. Akhlak dan pnampilan yang baik adalah sama- sama penting. Yang penampilannya sudah baik dan sesuai syar'i  seyogyanya harus tetap mengedepankan akhlak  sebagai hal yang paling utama. 

Dan yang belum berpenampilan baik harus belajar memperbaiki penampilannya untuk menyempurnakan kewajiban dan syiar agama. 

So, demikian ulasan mengenai artikel jangan melihat buku dari covernya. Semoga bermanfaat.... 






SIMFONI DZIKIR DAN TAFAKUR LUHUR





Tafakur


Apa yang sahabat pikirkan ketika melihat foto bumi atau galaksi-galaksi di luar angkasa seperti ini? 

Indah.....Maha karya luar biasa. 


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ   
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Al-imran : 190) 


Dalam kesibukan rutinitas sehari-hari kadang kita terkungkung di dalamnya, benak pikiran hanya penuh dengan agenda pekerjaan, beradu dengan segala macam kesibukan orang-orang sekitar. 

Mari sejenak arahkan pandangan kita ke langit malam, saat cahaya bulan dan bintang berpendar cahaya temaram dalam kelam, di antara barisan awan yang berjalan berbaris perlahan. 

Mari sesaat renungkan, bagaimana pemandangan eksotis itu tercipta ketika siang berganti malam. Matahari terbenam dan muncul bulan dan bintang. 

Ini contoh sederhana dari tafakur. 

Tafakur adalah berpikir, merenungkan. Dan yang dimaksud merenungkan di sini adalah  merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah (alam semesta). 

Tafakur luhur yang melahirkan rasa syukur. Syukur yang melahirkan cinta dan ketundukan hamba pada Sang Pencipta. 

Orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada ayat-ayat-Nya. 

Ayat-ayat Allah ada yang tertulis dalam kitab suci disebut dengan ayat-ayat naqliyah. Ada pula yang tersebar di seluruh jagad raya, yang bisa kita lihat atau kita teliti itu disebut dengan ayat-ayat kauniyah. 

Kesemuanya ayat-ayat itu menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan keesaan-Nya. 
Rasa Saw bersabda:

تفكروا في خلق الله ولا تتفكروا في ذات الله

Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang dzat Allah

Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh manusia dalam bertafakur. Yakni objek tafakur itu hanya terbatas pada ciptaan Allah. Jangan sampai melebihi batas kemampuan manusia untuk menjangkaunya, yaitu bertafakur tentang dzat Allah. Karena bagaimanapun cerdasnya otak manusia ia takkan mampu mencerna dan memahami secara ilmiah tentang dzat Tuhan Yang Maha Besar. 


Simfoni indera dan hati



Pada dasarnya manusia diberikan penglihatan, pendengaran dan segala inderanya  adalah sebagai potensi luar biasa untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di mana-mana. 

Bahkan di diri mereka sendiri terdapat jutaan keajaiban yang mempesona. 

Dalam surat Fusshilat ayat 53 :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ 
Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami di penjuru ufuk dan di dalam diri mereka sehingga tampak kepada mereka bahwa Alquran itu adalah benar

Tafakur bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Hanya perlu menajamkan mata penglihatan dan mata hatinya. 

Namun sayangnya banyak sekali yang menyia-nyiakan potensi tesebut dan malah menyalahgunakan fungsinya ke hal-hal yang dilarang agama. Seperti mata digunakan untuk melihat maksiat, telinga untuk mendengar ghibah, mulut untuk bergunjing, dan lain-lain. 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Hati adalah kunci aktivitas tafakur.  

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa orang yang tak mau bertafakur sejatinya tidak ada kerusakan apapun pada inderanya. Semua inderanya normal seperti biasa. 

Namun ketika hatinya tertutup oleh dosa maka mata hatinya menjadi buta. Dan ketika mata hatinya buta maka indera penglihatannyapun seolah buta, tak bisa melihat kebenaran dan tanda-tanda kebesaran IlahiIlahi di sekitarnya. 


Simfoni dzikir dan tafakur



الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النار

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 

Allah berfirman dalam surat al-imran ayat 191  bahwa ada keterkaitan antara dzikir dan tafakur. 

Dzikir akan mengarahkan hati dan seluruh indera bertafakur. 

Dzikir seperti air yang membersihkan noda dan kotoran yang menutupi hati, membuka tabir menuju cahaya Ilahi. Sehingga mata hati menjadi tajam kembali. 

Semakin sering dzikir dibaca semakin terbuka hati pembacanya. Semakin banyak dzikir dibaca semakin terang oleh nur Rabbani. 

Orang yang ingin mendapat cahaya iman akan memperbanyak dzikir di waktu apapun, saat berdiri, duduk, berbaring atau sambil melakukan aktivitas sehari-hari. 

Ketika hati terbuka, dipenuhi cahaya Rabbani maka seluruh inderanya akan berfungsi dengan baik. Segala yang tampak akan terarah pada kebesaran dan keagungan Allah Swt. 

Sebaliknya tafakur akan kekuasaan Allah mampu meningkatkan kualitas dzikir, menambah kekhusyukan dan kerinduan. 

Dzikir dan tafakur seperti dua simfoni yang saling menyempurnakan. 

Karenanya pada ayat tersebut Allah mendorong manusia untuk berdzikir dan bertafakur dalam rangka bertaqarrub pada-Nya dan memperoleh ridha-Nya. 

Demikianlah ulasan tentang dzikir dan tafakur. 

Semoga bermanfaat..... 


Kamis, 26 November 2020

DAHSYATNYA DZIKIR MENGINGAT ALLAH

 


Dzikir penyambung hati dengan Sang Pencipta


Dzikir itu apa sih? 

Dzikir secara bahasa berarti mengingat, menyebut atau menuturkan. 

Nah, secara istilah dzikir adalah aktivitas hati dan lisan yang mengingat serta memuji Allah secara berulang-ulang dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh agama. 

Berdzikir hukumnya sunnah dan keutamaannya sangat besar apabila diresapi dan diistiqamahkan sebagai amalan sehari-hari. 

Menurut Imam Athoillah, dzikir ada dua macam:
a. Dzikir jali, yaitu dzikir yang dilakukan oleh hati dan lisan secara bersamaan dengan tujuan agar lisan bisa menuntun gerakan hati untuk tunduk dan ikhlas kepada-Nya. 
b. Dzikir khafi, yaitu dzikir hati, menggerakkan hati untuk terus-menerus ingat pada Allah. Segala yang dilihat, didengar atau dirasakan semuanya kembali pada Allah karena hati disiapkan untuk selalu terhubung kepada Allah. 

Jadi, inti dari dzikir adalah hati yang tersambung kepada Allah, dan sambungan itu terwujud melalui puji-pujian atau bacaan-bacaan dzikir yang menghadirkan cinta dan syukur. 

Semua manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk selalu terhubung kepada  Sang Maha Pencipta. Namun potensi itu akan terkikis bila hati terlalu sibuk dan dipenuhi rasa cinta duniawi. 

Karenanya hati perlu diasah dan dibersihkan dengan bacaan-bacaan dzikir agar bisa tersambung kembali dan menemukan kembali arti hidup yang telah dianugerahkan Penciptanya. 

Allah Swt mengingatkan manusia untuk  memperbanyak dzikir. Mengingat dan menyebut nama-Nya. Sebagai bagian rasa syukur atas segala karunia-Nya dan sebagai jalan untuk memperoleh rahmat dan ridha-Nya.  
Dalam surat al-ahzab ayat 41-42 Allah berfirman:

يآيها الذين امنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا . وسبحوه بكرة وأصيلا

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Dzikir bisa dilakukan kapan saja, tak ada batas waktu. 

Namun ada waktu-waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa dan berdzikir, yaitu:

a. Di waktu pagi dan petang. 
Sesuai ayat di atas, maka pagi dan petang adalah salah satu waktu terbaik untuk berdzikir. 

Rasulullah Saw memiliki kebiasaan berdzikir khusus pada dua waktu ini dengan doa-doa khusus pula, di antaranya adalah membaca surat al-ikhlas, muawwidzatain, ayat kursi, dan doa khusus pagi dan petang. 

b. Setelah sholat fardhu. 
Waktu sehabis sholat fardhu dikenal sebagai waktu yang mustajab (waktu dikabulkannya doa). Oleh karena itu disunnahkan memperbanyak dzikir saat selesai sholat. 


فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ۚ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. 

Sesuai ayat di atas dzikir bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, berbaring atau tidur-tiduran, sambil melakukan pekerjaan, mengasuh anak dan sebagainya. 


Dzikir menangkal godaan setan



Selain itu dzikir juga berfungsi sebagai penangkal gangguan dan godaan setan yang tak lelah menggoda manusia agar jatuh dalam jurang kenistaan. 

Hati yang kosong dan lengah biasanya akan mudah terpedaya. 

Berapa banyak manusia yang tertipu oleh muslihatnya dan berakhir binasa dalam kesengsaraan dan penyesalan di akhirat. 

Allah Swt berfirman dalam surat Fathir : 6

إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا۟ حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا۟ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala

Setan adalah musuh manusia. Ia akan menggunakan berbagai cara licik untuk menggelincirkan manusia ke neraka. Ia bisa membungkus keburukan dengan kebaikan,  kejahatan dengan keindahan. 

Godaan setan biasanya terbungkus hal-hal yang indah dan menjanjikan kesenangan duniawi. Namun kesenangan itu hanya sementara karena pasti berakhir sengsara. 

Hati yang dipenuhi dzikir akan mampu mendeteksi dengan tajam segala bentuk rayuan setan, ia akan waspada terhadap perangkap-perangkapnya dan selamat dari tergelincir. 


Dzikir obat gundah gulana


Sering kali hati sedih tak karuan bukan karena beratnya masalah yang diemban, batin merana penuh gundah gulana bukan karena nestapa, jiwa menderita bukan karena pedihnya kehidupan

Tapi karena kosongnya hati dari cahaya Ilahi, sepinya jiwa dari sentuhan petunjuk dan rahmat Yang Kuasa. 

Coba kita lihat berita, berapa banyak selebriti terkenal yang bertabur kekayaan dan popularitas, miliarder-miliarder yang berlimpah harta dan takkan habis dimakan tujuh turunan, orang-orang berkuasa yang digjaya dan  memiliki segalanya namun akhirnya mati tragis karena bunuh diri dan depresi. 

Ada apa di sana? 

Ternyata kebahagiaan sejati itu tak datang bersama harta, kekayaan melimpah, popularitas atau kekuasaan. Kebahagiaan di dalamnya hanya kebahagiaan semu, yang begitu cepat hilang dan berganti gulana. 

Kebahagiaan hakiki ada bersama cahaya Ilahi, dalam ketakwaan dan dzikrullah. Selalu mengingat Allah. 
  
Dalam surat ar-ra'd :28 Allah Swt berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Dzikir pembawa ketentraman


Hati yang tentram, batin tenang dan hidup penuh kebahagiaan adalah harapan semua orang. 

Namun coba kita perhatikan di sekitar kita, orang yang hidup serba kekurangan tanpa kekayaan atau popularitas, setiap hari pergi bekerja ke ladang milik orang lain, tidur beralas tanah dan beratapkan langit justru terlihat bahagia? Wajahnya cerah dan hidupnya tentram. 

Bagaimana bisa begitu?

Ya. Karena ternyata kebahagiaan hakiki tak tergantung pada kekayaan atau kedudukan. Kebahagiaan adalah anugerah yang diberikan pada hati yang bersyukur. Syukur lahir dengan berdzikir. Dzikir memupuk rasa syukur dan berbuah ketakwaan. 

Dengan dzikir bumi akan terasa lapang dan bersahabat, jalan hidup akan terasa penuh berkah dan rahmat, hidup berlimpah rasa aman dan tentram. InsyaAllah. 

Sesuai dengan potongan ayat:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-jumuah: 10) 

Jadi kalau merasa hati sempit, galau, bete. Jangan-jangan itu karena kita lalai untuk mengingat Allah Sang Pemberi hidup. 


Dzikir pembawa rezeki


Pernahkah merasa rezeki seret? Hidup sangat sulit? Kesuksesan sukar sekali digapai? 

Jangan-jangan karena kita tak lagi ingat kalau rezeki dan kesuksesan adalah berasal dari Allah. 

Kita mati-matian mengejarnya tapi melupakan Allah. 

Allah Swt Sang Maha Pemberi rezeki sangat pemurah terhadap hamba-Nya, namun Allah sering mengingatkan hamba-Nya dengan cara memberi teguran. Rezeki seret, hidup serba susah adalah teguran dari Allah agar kita ingat pada-Nya. 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (At-thalaq : 2-3) 

Allah berjanji bahwa orang yang bertakwa pada-Nya akan diberi jalan keluar, rezeki yang cukup meskipun dari berbagai jalan yang tidak disangka-sangka. 

Meskipun rezeki itu tidak banyak namun cukup dan berkah. Bukankah rezeki yang cukup tak berarti harus banyak? Bukankah rezeki yang banyak belum tentu cukup jika tidak dicukupkan oleh Allah? 

Nah, rezeki yang cukup dan berkah seperti ini akan diberikan pada orang-orang yang menjadikan Allah Swt nomor satu, selalu menyebut nama-Nya sebelum mencari rezeki di muka bumi. 


Dzikir berbuah husnul khatimah



Dzikir memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah orang yang istiqomah berdzikir selama hidupnya akan dimudahkan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. 

Husnul khatimah adalah akhir yang baik. Meninggal dengan membawa iman dan Islam, saat ajalnya tiba ia berada dalam keadaan ingat pada Allah. 

Itulah akhir hidup yang mulia. Kematian menjadi hal yang dirindukan karena akan bertemu dengan Sang kekasih yaitu Allah Swt yang selama hidupnya selalu diingat dan disebut.

    من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه، ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه

Barang siapa ingin bertemu dengan Allah maka Allah juga ingin bertemu dengannya. Dan barang siapa tidak suka bertemu dengan Allah maka Allahpun tidak suka bertemu dengannya. HR. Bukhari

Mengapa orang mukmin yang bertakwa dan suka berdzikir ingin bertemu dengan Allah? Karena bertemu Allah adalah sebaik-baik nikmat, hadiah terindah di akhirat. 

Mendapat tempat istimewa di sisi Allah


Orang yang berdzikir kepada Allah memperoleh keistimewaan yang tidak tanggung-tanggung.  Setiap ia mengingat Allah maka Allah akan mengingatnya dengan melimpahkan rahmat-Nya dan membersamai langkahnya. 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-baqarah : 152) 



Apa saja bacaan-bacaan dzikir itu? 



Bacaan dzikir ada banyak sekali. Namun ada beberapa bacaan dzikir yang singkat namun memiliki keutamaan luar biasa. Di antaranya adalah:

1. Tasbih/  سبحان الله  dalam redaksi yang lain سبحان الله العظيم

Tasbih artinya Maha Suci Allah, yaitu menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. 

2. Tahmid/ الحمدلله 
Tahmid artinya segala puji bagi Allah, yaitu bersyukur dan memuji Allah. 

3. Takbir/ الله اكبر
Takbir artinya Allah Maha Besar, yaitu mengagungkan Allah. 

4. Istighfar/ استغفرالله العظيم
Istighfar artinya Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yaitu memohon ampun atas dosa yang diperbuat. 

5. Tahlil/ لااله الاالله
Tahlil artinya membaca kalimat tauhid, yaitu mengesakan Allah. 

6. Hauqalah/ لاحول ولا قوة الا بالله
Hauqalah artinya tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah, yaitu memohon pertolongan Allah. 

Rasulullah Saw bersabda:

قال الا أعَلِّمُكُمْ خَمْسَ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ‏ عَلَى‏ اللِّسَانِ،‏ ثَقِيلَاتٍ فِي  الْمِيزَانِ، يَرْضَيْنَ الرَّحْمَنَ، وَيَطْرُدْنَ الشَّيْطَانَ، وَهُنَّ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ وَمِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ، وَهُنَ‏ الْباقِياتُ الصَّالِحاتُ؟". قَالُوا:     بَلَى يَا رَسُولَ الله

فَقَالَ "قُولُوا سُبْحَانَ الله، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله، وَالله أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ".. ثم َقَالَ صلى الله عليه وسلم: "خَمْسٌ بَخٍ بَخٍ لَهُنَّ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ".

Nabi berkata: maukah ku ajarkan lima kalimat yang ringan di lidah dan berat di timbangan, Allah meridhainya, bisa mengusir setan, dan termasuk perbendaharaan surga, dari bawah Arsy, dan termasuk albaqiyat ash-shalihat?. Mereka menjawab: ya wahai Rasulullah, Nabi berkata: katakanlah subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allohu akbar, la haula wa la quwwata illa billah alaliyyil adzim. Kemudian Nabi berkata: lima berlimpah berlimpah sungguh berat timbangannya di mizan ". HR. Bukhari

Demikianlah uraian tentang dahsyatnya dzikir. 

Semoga kita bisa mengamalkan bersama-sama......... 







Rabu, 25 November 2020

KEAJAIBAN SHOLAWAT

 



Siapa yang suka bersholawat ? 

Sholawat adalah tanda cinta, bentuk kerinduan, yang mengokohkan ikatan antara umat dan Nabinya. 

Berapa banyak umat Nabi Saw yang belum pernah bertemu, berbicara dan bertatap muka dengan beliau? Nah, sholawat adalah solusinya. 

Sholawat seolah menjadi media sambung antar batin. Umat yang tak pernah bertemu dengan Nabi hakikatnya bertemu dan berbicara dengan beliau melalui sholawat. 

Siapapun dan di manapun berada, orang yang bersholawat sholawatnya akan dijawab oleh Nabi. 

Sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad:

ما منْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ، إِلَّا رَدَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ  عَلَيْهِ السلام

Tidaklah seseorang memberi salam kepadaku melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya. 

Dengan sholawat Rasulullah Saw dan umatnya akan selalu terhubung. 

Subhanallah... 


Makna Sholawat


Sholawat memiliki beberapa makna. Yaitu bermakna doa dan salam apabila di baca oleh umatnya, tapi sholawat itu bermakna rahmat jika berasal dari Allah Swt. 

Disebutkan dalam surat az-zumar ayat 56:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Pada ayat itu Allah mengumumkan bahwa Allah serta para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, itu berarti Allah Swt selalu mencurahkan rahmat-Nya pada Nabi kita. 
Dan Allah memerintahkan kita sebagai umatnya untuk bersholawat juga kepadanya. 

Agar sholawat kita benar-benar tulus ikhlas dan menembus relung hati, maka perlu kita renungkan maksud dan tujuan bersholawat, kepada siapa kita bersholawat, apa manfaat kita bersholawat. 

Dalam sholawat kita berdoa dan menyebut nama Baginda Nabi Saw dengan penuh cinta. 

Siapakah beliau? 

Beliau adalah manusia terbaik dan paling istimewa di sisi Allah azza wa jalla, Rasul pilihan, Nabi akhir zaman yang menyebut-nyebut dan mengkhawatirkan keselamatan umatnya di penghujung hayatnya. 

Beliau yang menggantungkan batu-batu di perutnya untuk menahan rasa lapar dalam perjuangannya, menyuapi wanita tua yahudi yang selalu menghujatnya, mendoakan kaum Thaif yang mengusir dan melemparnya dengan batu. 

Beliau yang diberi gelar Al-amin oleh kaumnya, di beri gelar raufun rahim (yang penuh kasih sayang) oleh Rabb-nya. 

Disebutkan dalam surat at-taubah :126:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ 

عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Apa tujuan kita bershalawat? 

Alangkah baiknya jika dalam bersholawat kita mempunyai tujuan sebagai motivasi. 

Tujuan bersholawat kepada Nabi tentu adalah untuk memperoleh syafaatnya (pertolongan) kelak di hari kiamat, diakui sebagai umatnya, bisa dekat dan berkumpul dengannya dalam surga. 

Tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada memperoleh syafaatnya. Syafaat yang diimpikan seluruh manusia, bahkan para nabipun kelak berjejer mengharap syafaatnya. 


Apa manfaat membaca sholawat? 


Manfaat membaca sholawat itu banyak sekali. Di antaranya adalah:

1. Mendapat syafaat Nabi di hari kiamat

أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً وَ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barang siapa melakukan hal itu, maka aku menjadi saksi dan pemberi syafa’at baginya di hari kiamat. (HR. Baihaqi) 

2. Mendapat balasan berlipat dari Allah

مَنْ صَلَّى عَليَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Siapa yang membaca shalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat (memberikan rahmat) untuknya sepuluh kali. 

3. Mendapatkan keutamaan masuk surga

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَلْفَ مَرَّةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يُبَشَّرَ لَهُ بِالجَنَّةِ

Siapa yang membaca shalawat atasku seribu kali, maka ia tidak akan meninggal dunia sampai diberikan kabar gembira masuk surga untuknya. 

4. Dekat dengan Nabi SAW. 

إنَّ أوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً

Sungguh manusia yang paling pertama bersamaku di Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat atasku.

5. Meleburkan dosa. 

 صَلاَتُكُمْ عَلَيَّ مَحَّاقَةٌ

Shalawat kalian atasku adalah dapat menjadi pelebur (dosa-dosa kalian).

6. Dikabulkan hajat-hajatnya

مَا مِنْ دُعاءٍ إلا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّماءِ حِجَابٌ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيَّ فإذا صَلَّى عَلَيَّ انْخَرَقَ ذالِكَ الحِجَابُ وَرُفِعَ الدُّعَاءُ

Tidak ada doa kecuali antaranya dan langit terdapat penghalang sampai ia bershalawat atasku, jika ia bershalawat atasku maka hijab (penghalang) itu akan terkoyak dan doa akan diangkat (tembus ke langit).

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ سَبْعِيْنَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ وَثَلاَثِيْنَ مِنْهَا لِدُنْيَاهُ

Siapa yang bershalawat atasku dalam sehari seratus kali, maka Allah akan menyelesaikan kebutuhannya tujuh puluh di antaranya untuk akhiratnya dan tiga puluh darinya untuk dunianya.

7. Merasa tentram dan bahagia. 

8. Memperoleh hidup dan rizki yang berkah melimpah. 

9. Dimudahkan urusan-urusannya dan dihilangkan kesulitan-kesulitan hidupnya. 

10. Diberikan derajat yang tinggi.

11. Meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. 

Dan masih banyak keutamaan-keutamaan yang lain yang bisa diraih dengan sholawat. Karena itu para ulama terdahulu dan orang-orang sholeh memiliki kebiasaan membaca sholawat sebanyak-banyaknya dan menjadikannya sebagai dzikir harian. 

Jadi, setelah mengetahui keutamaan-keutamaan sholawat yang begitu istimewa, semoga membuat kita semakin rajin dan semangat melangkah bersama sholawat pada Nabi..... 


Selasa, 24 November 2020

BERKATA JANGAN PADA ANAK MENURUT ALQURAN



Jangan berkata "jangan"!

Dalam teori pendidikan masa kini sering kita menjumpai larangan menggunakan kata "jangan" terhadap anak . 

Alasannya adalah karena memberikan kesan negatif yang membuat anak semakin ingin mencoba hal yang dilarang sebab lebih fokus terhadap kata di belakang kata "jangan". Contoh jangan lari, jangan bohong dan lain-lain. 

Selain itu akan menyebabkan anak menjadi kurang kreatif dan rendah inisiatif, karena terlalu dikungkung dan dibatasi ruang geraknya. 

Orang tua atau guru diarahkan untuk mengganti kata jangan dengan kata perintah seperti "sebaiknya berjalan saja", "bicaralah yang jujur". Hal ini dianggap lebih positif dan memberikan hasil yang lebih baik. 

Lalu sebenarnya apa kata Al-quran tentang hal ini? 


Konsep pendidikan dalam Al-quran


Konsep pendidikan Islam yang mengacu pada Al-quran mengajarkan keseimbangan dan keselarasan untuk mendidik dan membentuk generasi Islam yang kaffah

Generasi Islam yang kaffah adalah generasi Islam yang mengamalkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, tidak setengah-setengah. 

Salah satu kisah yang diangkat oleh Al-quran sebagai gambaran bagi umat manusia tentang konsep pendidikan ideal adalah kisah Luqman Al-Hakim. 

Bahkan kisah tersebut diabadikan dalam satu surat khusus bernama surat Luqman. 

Siapakah Luqman Al-hakim? Luqman Al-hakim adalah seorang bapak yang sholeh yang kisahnya diabadikan dalam Al-quran. 

Apa saja poin-poin penting yang disampaikan oleh Luqman Al-hakim kepada anaknya dalam surat ini? 

a. Jangan menyekutukan Allah (menanamkan akidah Tauhid) 

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. 

Mari kita perhatikan ayat ini (Luqman:13). Dalam pesan pertama Allah Swt menggunakan redaksi "ya bunayya" yang artinya anakku sayang. Redaksi ya bunayya digunakan sebanyak tiga kali. 

Hal ini mengajarkan tentang perlunya ungkapan kasih sayang dari orang tua pada anaknya melalui panggilan sayang seperti contoh di atas. 

Panggilan sayang bisa disesuaikan dengan budaya tiap bangsa maupun suku. Seperti entong untuk anak laki-laki dan neng untuk anak perempuan pada suku Betawi di Indonesia, atau kacong dan jebing pada suku Madura, tole dan nduk pada suku Jawa, dan lain sebagainya. 

Kemudian pada redaksi ayat ini secara tegas Allah Swt menggunakan fiil nahi. 

Fiil nahi adalah bentuk larangan yang diawali dengan kata "jangan". 

Ayat ini mengandung pesan pentingnya penanaman akidah tauhid. 

Tauhid adalah pesan utama yang harus dikenalkan dan disampaikan pertama kali dalam pendidikan anak. 

b. Takutlah kepada Allah di manapun berada (menanamkan ketakwaan kepada Allah) 

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Pada ayat ini (Luqman:16) Allah Swt menggunakan redaksi pengandaian dan perumpamaan, bukan perintah maupun larangan. Hal ini berguna untuk mengilustrasikan betapa pentingnya ketakwaan kepada Allah. 

c. Dirikanlah sholat dan amar makruf nahi munkar (perintah beribadah kepada Allah dan berdakwah) 

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Pada ayat ini (Luqman:17) Allah Swt menggunakan fiil amar sebagai penekanan perintah beribadah dan berdakwah. 

Beribadah dan berdakwah harus disertai dengan kesabaran terhadap berbagai rintangan. Dengan sabar maka beribadah kepada Allah dan melaksanakan kewajiban dakwah akan bisa terlaksana dengan istiqamah (konsisten) 

d. Jangan bersikap sombong (perintah berakhlak mulia terhadap sesama) 

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Konsep pendidikan dalam surat Luqman sangat apik dan relevan dengan pendidikan generasi Islam kaffah setiap masa, khususnya generasi milenial saat ini. 

Tema pendidikan diurut sesuai skala prioritas. Dimulai dari hal terpenting yaitu menanamkan keyakinan tentang keesaan Allah Swt, mendorong anak untuk bertakwa kepada-Nya, beribadah, berdakwah, lalu kewajiban bermuamalah (hidup bersosial) dengan akhlak mulia. 

e. Perintah menjaga etika dan sopan santun (akhlak mulia) 

وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Akhlak mulia harus disertai sikap sopan santun dan sesuai dengan etika yang ada masyarakat. 

Salah satunya adalah berjalan dengan cara yang sederhana dan tidak mengundang perhatian serta melunakkan suara yang menyiratkan keramahan terhadap siapa saja. 


Pelajaran-pelajaran yang terkandung dalam surat Luqman


Nah, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari penjelasan konsep pendidikan Islam dalam surat Luqman, di antaranya:

1. Diperbolehkan melarang anak dengan kata "jangan" sebagaimana dilakukan oleh Luqman Al-hakim untuk hal-hal yang sangat penting yang memerlukan penekanan lebih. 

Hal ini menunjukkan bahwa melanggar larangan tersebut dampaknya sangat berbahaya bagi anak. 

Contoh ketika anak akan mendekati api yang berkobar tentu kita harus melarang secepatnya dengan berkata "jangan" (Jangan dekati api itu!!) 

Karena di saat yang genting seperti itu mengganti larangan dengan kata perintah (seperti "pergi dari situ!") tidaklah efektif. 

Jadi bisa dipahami ya bahwa melarang dengan kata "jangan" itu tetap diperlukan. 

Namun memang tidak boleh dilakukan terlalu sering dan berlebihan sehingga menimbulkan kesan posesif terhadap anak. 

Karena akan ada dampak buruk yang timbulkan seperti anak menjadi kurang percaya diri, menjadi pemberontak dan tidak berani berpendapat atau mengambil keputusan. 

Hal ini dibenarkan oleh Psikolog klinis, Dra. Ratih Ibrahim, M.M.  dalam harian m. merdeka.com, ia mengatakan bahwa kata jangan tetap harus digunakan untuk menghindari bahaya, untuk hal-hal yang penting dan prinsip. 

Nah, ini menunjukkan kalau ajaran Islam adalah ajaran yang santun, maju dan selaras dengan perkembangan zaman

2. Kisah Luqman Al-hakim tertera pada ayat ke13-19. Pada ayat ke 14 dan 15 kisah Luqman Al-hakim disela oleh ayat yang mengetengahkan tentang kewajiban taat dan berbuat baik kepada orang tua. 

Hal ini menunjukkan perhatian Allah Swt pada hubungan antara orang tua dan anak. Kewajiban orang tua adalah mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik, sedangkan kewajiban anak adalah memuliakan dan berbuat baik kepada orang tuanya. 

Berbuat baik kepada orang tua selamanya harus dilakukan oleh anak. Bahkan seandainya orang tua menyuruh kemaksiatan maka anak harus tetap berbuat baik kepadanya meskipun tidak boleh mentaatinya. 

3. Pada tiga ayat dikisahkan bahwa Luqman Al-hakim memanggil anaknya dengan panggilan sayang "ya bunayya".

Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengawal tauhid dan mendidik anak harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut. 

Karena dengan kasih sayang anak akan lebih mudah menangkap dan menyerap pesan-pesan yang disampaikan. 

Sebaliknya bila pendidikan dilakukan dengan bentakan dan kata-kata kasar maka hal tersebut hanya akan menuai kebencian anak terhadap orang tuanya. 

Sehingga suatu saat anak akan mencari orang lain untuk mendapatkan kasih sayang dan rasa aman. Nah, akan sangat berbahaya sekali bila orang tersebut adalah orang yang tidak baik dan jauh dari agama. Anak kita bisa ikut terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan. 

Naudzubillah min dzalik. 

4. Kisah yang diangkat dengan tema besar pendidikan dalam al-quran adalah kisah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. 

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama pertama kali harus dilakukan oleh orang tua. Jadi tugas orang tua selain mengasuh dan merawat anak adalah memberikannya pendidikan agama. 

5. Dalam penyampaiannya Luqman Al-hakim menggunakan skala prioritas untuk menunjukkan mana yang lebih penting untuk disampaikan terlebih dahulu. 

Pertama ia menyampaikan tentang kewajiban mengesakan Allah, lalu yang kedua pentingnya bertakwa kepada Allah, yang ketiga kewajiban beribadah, berdakwah dan disertai kesabaran, yang keempat pentingnya berakhlak mulia dalam kehidupan bersosial dan pentingnya menjaga sopan santun dan etika. 

Demikianlah sekelumit ulasan tentang berkata jangan pada anak dari sudut pandang Al-quran. 

Semoga bermanfaat, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menerapkan konsep pendidikan yang sesuai dengan ajaran Al-quran...... 




Senin, 23 November 2020

ADA PERTEMUAN ADA PERPISAHAN



Segala di dunia ini tak ada yang abadi. Dan merupakan sunnatullah yang telah digariskan segala sesuatu di dunia ini ada batas masanya. 

Ada hidup ada mati. Ada pertemuan ada perpisahan. 

Teman-teman tahu? 

Saat melepas anak menuntut ilmu belajar ke pesantren itu misalnya, yang sudah menjadi orang tua seperti penulis akan merasa kalau waktu menimang anak-anak kita sangat singkat. 

Perasaan baru kemarin kita gendong, kita suapin, kita cebokin, kita mandiin. Begitu cepat mereka besar dan beranjak dewasa. 

Waktu sungguh cepat berlalu. 

Tak terasa kitapun menua, kulit tak sehalus tahun-tahun sebelumnya, mulai timbul garis halus keriput, uban mulai tumbuh,  di sana-sini mulai timbul keluhan kesehatan, energi mulai berkurang. 

Ternyata usia kita sudah kepala tiga, empat, lima dan seterusnya. 

Kita jadi ayah, Ibu, kakek, nenek, buyut.... 


Hidup Sangat Sebentar


Hidup manusia di dunia sangat sebentar. Kita bertemu satu sama lain lalu berpisah. 

Waktu sebentar itu bukan hanya perasaan saja, ini nyata. 

Allah Swt berfirman dalam surat al-mukminun : 112-114:

قَٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ عَدَدَ سِنِيين

قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ ٱلْعَآدِّينَ

قَٰلَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
     
Allah bertanya: Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?. Mereka berkata : Kami (hanya) tinggal di sana selama sehari saja, atau setengah hari saja. Maka tanyalah para penghitung yang menghitung jumlah bulan dan jumlah hari. Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui

Coba kita ingat, sepertinya baru beberapa tahun yang lalu kita masih sekolah di taman kanak-kanak, masih menggenggam aneka mainan, kemudian tumbuh menjadi seorang remaja, bergelut dengan pelajaran mempersiapkan UN, tertarik pada lawan jenis, lalu tumbuh semakin dewasa, menempuh pendidikan di perguruan tinggi bagi yang kuliah, lalu terus tumbuh hingga menikah, memiliki pasangan hidup dan keturunan, hingga saat ini. 

Kenangan dan peristiwa-peristiwa itu seolah masih berputar, bahkan kadang kita ingat  momen-momen kejadian secara detail, baru kemarin. 

Karena itu dalam ayat di atas dijelaskan bahwa di akhirat manusia melakukan dialog dengan Allah azza wa jalla, mereka ditanya tentang berapa lama hidup di dunia.  

Mereka menjawab bahwa mereka hidup di dunia hanya sekitar sehari atau setengah hari saja. 

Itu berarti mereka merasakannya sangat cepat. Seperti kemarin 

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا 

Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya. 

Jadi, hidup di dunia ini sejatinya adalah transit, singgah. 

Dari kehidupan alam ruh kemudian menuju  rahim ibu, lalu lahir dan singgah sebentar di dunia kemudian melanjutkan perjalanan  menuju alam akhirat. 

Nah, hidup di dunia singkat bukan? 


Kematian itu pasti


Setelah hidup, ada kematian. 

Segala yang hidup pasti mati. 

Yang takut mati, yang berani mati. 
Yang siap, dan yang tidak siap. 

Semua akan merasakannya. 

Yang baru lahir, yang masih bayi, anak-anak, remaja, yang masih muda belia, yang sudah setengah baya, dan yang lanjut usia. 
Tak ada yang bisa mengelak. Semua hanya menunggu giliran saja. 

Disebutkan dalam surat al-anbiya ayat 35:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِٱلْمَوْت   
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Waktu kematian ada di tangan Allah dan telah tertulis di Lauh Mahfudz. 

Apakah Lauh Mahfudz itu? 

Lauh Mahfudz adalah kitab tempat dicatatnya seluruh kejadian di alam semesta sesuai ketentuan dan kehendak Allah.

Apa yang telah tercatat di sana tak bisa lagi dirubah oleh makhluk-Nya termasuk waktu kematian. Nah, ini berkaitan dengan luasnya ilmu dan kekuasaan Allah yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. 

Allah Swt berfirman dalam surat a l-a'raf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Persiapkan Amal Untuk Masa Depan


Sahabat.... 

Ternyata masa depan kita adalah akhirat, rumah masa depan kita adalah liang kubur yang berukuran kurang lebih 2.5x1.5 meter. Dan teman yang mendampingi kita adalah amal perbuatan semasa di dunia. 

Hidup di dunia memang sementara. Namun hidup di dunia sangat menentukan masa depan.

Karena itu masa hidup di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. 

ٱلْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.

Orang yang beriman pasti mengetahui bahwa kematian adalah suatu keniscayaan. Dan kematian bukanlah hal yang harus ditakutkan. 

Tugas manusia hanya menyiapkan amal. Mempersiapkan diri dan mempersiapkan keluarga, menjaga diri dan keluarga serta orang-orang yang dicintai agar selamat dari api neraka. 

Disebutkan dalam surat at-tahrim ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Pertemuan Kembali


Ada pertemuan ada perpisahan. 

Kematian adalah jembatan yang memisahkan antara orang yang mati dan orang yang ditinggalkan. 

Bisakah mereka berjumpa dan berkumpul kembali? 

Ya,  kelak di akhirat kita bisa berjumpa dan berkumpul lagi seperti semasa di dunia. 

Karenanya orang yang beriman tidak hanya harus menyiapkan bekal akhirat untuk dirinya sendiri tapi juga harus mengajak dan mempersiapkan keluarganya serta orang-orang yang dicintainya agar berada di jalur yang sama. Supaya berada dalam kelompok yang sama. Yaitu sebagai penghuni surga. 

Jadi kematian adalah perpisahan sementara, dengan anak, orang tua, pasangan hidup, saudara dan keluarga. 

Namun kelak akan ada pertemuan kembali, pertemuan antara orang-orang bertakwa dengan orang-orang bertakwa lainnya, antara orang-orang durjana dengan orang-orang durjana lainnya. 

So, jangan sampai pertemuan di akhirat nanti hanya berakhir nestapa bagi kita. 

Tak bisa lagi berjumpa dan berkumpul dengan orang-orang yang dicinta. 




Tanaman Cantik Berbunga Surga




Siapa yang suka tanaman hias? 

Pasti banyak yang suka ya.....apalagi para bunda. 

Bukan hanya yang berbunga, yang tak berbungapun saat ini sedang menjadi trending viral . 

Seperti jenis tanaman Monstera atau lebih dikenal dengan nama Janda Bolong karena daunnya yang hijau dan berlubang membuat tanaman ini begitu unik memikat dan diburu oleh para pencinta tanaman hias dengan harga fantastis.

Atau tanaman Aglounema, Anthurium, bonsai dan lain-lain. 

Di masa pandemi yang berlangsung lama seperti saat ini kegiatan menanam dan merawat tanaman hias menjadi semakin digandrungi. Karena ternyata tak hanya bermanfaat untuk mengisi waktu luang tapi juga bisa menjadi cikal-bakal sumber penghasilan yang menjanjikan. 

Bagaimana tidak? Satu tanaman yang sedang viral dan dinilai unik bisa berharga sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal modalnya saat pertama kali ditanam paling cuma berkisar puluhan ribu rupiah. 

Tapi yang menarik, tahukah teman-teman kalau ternyata ajaran Islam sangat menghargai kegiatan kecil seperti ini? Seperti menanam tanaman hias di rumah atau lebih jauh lagi melakukan penanaman pohon dan penghijauan? 

Wow...... Jadi berkali-kali lipat ya untungnya. 


Menanam Tanaman Dan Pohon Bernilai Ibadah


Nabi Saw bersabda :

ما من مسلم يغرس غرسا أو يزرع زرعا فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقة   رواه البخارى

Tiada seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang ia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya. 

Hadist di atas secara gamblang memberi pengetahuan pada kita bahwa menanam pohon dan tanaman itu termasuk ibadah yang disukai oleh Allah dan akan berbuah pahala. 

Karena tanaman dan pohon dapat memberi banyak manfaat pada makhluk hidup di sekitarnya. 

Karena itu Rasulullah Saw mendorong umatnya untuk mencintai penghijauan. Bahkan di setiap lahan tanah yang kosong beliau perintahkan untuk ditanami pohon dan tanaman. 

 من كانت له أرض فليزرعها أو ليمنحها أخاه فإن أبي فلبمسك أرضه   رواه مسلم

Barang siapa memiliki sebidang tanah maka hendaklah ia menanaminya atau memberikannya pada saudaranya agar ditanami. Apabila saudaranya menolak maka hendaklah ia merawatnya. 

Bercocok tanam tenyata bernilai ibadah, bahkan bisa menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya bagi yang menanam meskipun ia telah meninggal selama tanaman tersebut masih bermanfaat bagi makhluk lain di sekelilingnya. 

Nah, ini angin segar lho bagi teman-teman yang suka bercocok tanam. Bisa jadi tanpa terasa sudah punya pahala yang besar berkat hal tersebut. 

Bukankah kadang kita bercocok tanam dan merawat tanaman itu hanya karena sekedar suka, hobi, untuk mengisi waktu luang saja tanpa maksud dan embel-embel apa-apa. 

Jadi kan ikhlasnya lebih terjaga. 


Apa Saja Sih Manfaat Bercocok Tanam? 


Ada beberapa manfaat bercocok tanam dan melakukan penghijauan :

a. Telah berkontribusi menjaga kelestarian alam sekitar. 

Allah Swt menciptakan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna. 

Namun seiring waktu manusia sebagai penghuni di dalamnya suka sekali melakukan perusakan lingkungan lewat eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam. 

Allah Swt berfirman dalam surat al-a'raf : 56:

ولا تفسدوا في الارض بعد إصلاحها

Dan janganlah kamu melakukan kerusakan di muka bumi setelah diciptakan dengan baik

Kerusakan alam akibat ulah manusia itu akan berdampak pada kehidupan manusia sendiri  ditandai dengan datangnya berbagai bencana alam yang melanda berbagai belahan bumi sebagai akibat perbuatan mereka. 

Dan bencana-bencana alam yang terjadi sejatinya datang sebagai alarm, peringatan sebelum timbul dampak yang lebih besar. 

Allah Swt berfirman dalam surat ar-rum:41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Nah, bercocok tanam dan melakukan penghijauan di rumah dan di sekitar kita setidaknya meskipun dalam skala kecil telah berpartisipasi ikut membantu menjaga lingkungan alam tetap lestari. 

b. Berkontribusi menyumbangkan udara segar dan bersih. 

Manusia dan kebanyakan makhluk hidup lain hidup dengan bernafas menghirup oksigen sehari-hari. 

Oksigen yang bersih sangat dibutuhkan untuk  kelangsungan hidup yang sehat. 

Polusi udara merusak kualitas udara sehingga tak layak dihirup oleh manusia dan bisa menganggu kesehatan. 

Pepohonan dan tanaman bisa menjadi salah satu penangkal polusi karena menghasilkan oksigen yang bersih, meskipun tentunya harus disertai penanganan-penanganan lain secara intensif berkaitan dengan masalah polusi. 

Nah, dengan bercocok tanam dan melakukan penghijauan di sekitar rumah kita akan menciptakan lingkungan hijau yang indah, lestari, dan berudara sejuk dan segar. 

c. Menjadi rumah dan sumber makanan bagi hewan dan serangga-serangga kecil. 

Hewan dan serangga-serangga kecil akan mempunyai rumah tempat berlindung dan memperoleh makanan. 

Seperti burung yang tinggal di pepohonan , membuat sarang dan memakan buah-buahan, kupu-kupu dan lebah yang menyerap sari bunga dan menghasilkan madu, semut dan hewan-hewan lainnya. 

Nah, oksigen, makanan dan tempat tinggal bagi hewan-hewan ini ternyata bernilai sedekah di sisi Allah. 

MasyaAllah... 

d. Membuat lingkungan indah dan asri. 

Dengan aneka tanaman dan pepohonan yang ditanam lingkungan menjadi sejuk dan indah. 

Dalam Al-quran surga juga digambarkan sebagai tempat yang indah penuh dengan taman bunga, pohon dan sungai mengalir.  Seperti dalam surat Al-baqarah ayat 25:

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya

e. Menghilangkan stres dan membuat hidup lebih sehat. 

Menurut penelitian bercocok tanam dan merawat tanaman itu bisa menjadi terapi stres yang efektif, membuat rileks dan bahagia. 

Dengan manfaat-manfaat tersebut secara otomatis akan meningkatkan kualitas hidup sehat para pencinta tanaman. 

Nah, demikian sekelumit ulasan tentang tanaman cantik yang berbunga surga. 

Semoga menginspirasi sahabat pembaca untuk mencintai lingkungan dan bercocok tanam.... 

Hal kecil dengan berjuta pahala. 






Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah

  Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik.  Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau ...