Sabtu, 28 November 2020

JANGAN MELIHAT BUKU DARI COVERNYA


Jangan menilai buku dari covernya! 

Sepertinya ini adalah salah satu peribahasa yang unik dan relevan dengan keadaan masyarakat kita sekarang ini yang kebanyakan masih suka menilai orang dari penampilannya. 

Karena sering kali penilaian yang hanya berdasarkan penampilan itu salah, dan  termasuk suudzon atau berprasangka buruk. 

Ada pengalaman pribadi penulis yang memberi pelajaran tentang hal tersebut. 

Tahun 2012 silam saat penulis beserta keluarga kecil balik mudik dari Jawa Timur ke Bekasi Jawa Barat. Kami singgah di sebuah masjid di Yogyakarta saat dini hari untuk beristirahat dan menghilangkan penat. 

Masjid itu terletak di sebelah kiri jalan raya. Agak jauh di sisi jalan terdapat barisan ruko yang sudah tutup. Suasananya gelap gulita. Namun disebelah deretan ruko tersebut nampak ada satu bangunan temaram oleh lampu kelap-kelip berwarna-warni. 

Terdengar alunan suara musik pop yang memecah kesunyian dari sana. 

Sesekali ada beberapa pria keluar masuk. Namun yang menjadi perhatian kami saat mengamati suasana sekitar dari dalam mobil adalah keluarnya pasangan laki-laki dan perempuan berpakaian terbuka dengan bermesraan. 

Meskipun jaraknya agak jauh namun nampak jelas karena cahaya bulan yang sesekali muncul. Karena itu kami berkesimpulan kalau tempat itu adalah tempat karaoke atau bar. 

Karena pak supir terlampau capek maka kami putuskan untuk memasuki gerbang masjid. 

Masjid itu lumayan agak luas dengan beberapa pohon di depannya

Ternyata di sisi sebelah masjid ada sekerumunan anak muda yang sebagian nongkrong di sepeda motornya. Mereka asik mengobrol sambil menghisap rokok. Rata-rata pakaian mereka khas anak muda jalanan dengan kaos pendek dan celana pendek atau celana jeans berlubang bagian lututnya. 

Saat turun dari mobil rasanya kurang nyaman berada di masjid itu. Kami  diperhatikan oleh mereka. 

Entah itu anak-anak jalanan atau remaja masjid. Tapi kalau melihat pakaiannya setiap orang pasti berpikir mereka adalah berandalan yang kebetulan nongkrong di masjid. Lalu ke mana penjaga masjidnya?. 

Karena ingin ke kamar mandi yang terletak di ujung masjid pas di belakang anak-anak muda itu berkerumun penulispun memberanikan diri bertanya. 

Dan tak disangka ternyata mereka menjawab dengan sopan. Bahkan setelah selesai dari kamar mandi salah satu dari mereka menghidupkan lampu satu sisi masjid, menggelarkan tikar serta mempersilahkan kami untuk istirahat. 

Setelah dikonfirmasi ternyata mereka adalah remaja sekitar yang berjaga agar masjid tidak dimasuki orang-orang mabuk dari seberang jalan. 

Itulah sekelumit pengalaman yang mengajarkan bahwa kadang kenyataan tak sesuai dengan yang terlihat, isi tak sesuai penampilan luarnya. 

Pengalaman lain datang saat penulis mengantarkan pesanan baju sambil mendorong kereta adik bayi yang masih berumur sekitar 5 bulan ke rumah seorang tetangga yang sangat agamis dari segi penampilan.  

Setelah mengucapkan salam di depan rumah ternyata yang keluar adalah seorang laki-laki. Namun bukannya menjawab salam tapi dengan kasar dan muka masam ia menanyakan ada apa. 

Tentu bagi seorang ibu-ibu yang bertamu baik-baik untuk keperluan mengantar pesanan sambil menggendong seorang bayi ini kurang mengenakkan. 

Alangkah baiknya jika salam dijawab dan ditanya keperluannya dengan sopan. Karena di komplek perumahan yang di jaga satpam selama 24 jam yang bisa bertamu pastilah hanya tetangga atau orang yang telah diverifikasi. 

Pengalaman lainnya datang dari beberapa tetangga yang juga mengisahkan hal-hal tak terduga. 

Pada bulan Ramadhan seorang tetangga laki-laki sedang bepergian dan pulang menjelang maghrib. Di tengah jalan tiba-tiba hujan deras turun dan memaksanya harus berteduh bersama beberapa musafir yang kehujanan di sebuah masjid. 

Ternyata di masjid tersebut sedang diadakan acara buka bersama. Sekelompok orang laki-laki dan perempuan berpakaian muslim-muslimah dengan penampilan sangat baik dan religius lalu lalang, berkumpul dan bersiap-siap  menyiapkan menu berbuka. 

Saat azan maghrib berkumandang ia mengira akan mendapatkan setidaknya segelas air mineral untuk berbuka bersama para musafir lainnya yang berteduh dari hujan. 

Namun sayangnya tak ada sapaan atau bahkan air untuk berbuka dari para jamaah masjidnya sampai sholat maghrib usai. 

Para musafir hanya menyaksikan jamaah masjid tersebut berbuka puasa dengan berbagai makanan dan minuman tanpa ada yang menghiraukan dan menawarkan. 

Miris, pada bulan Ramadhan seteguk air untuk orang yang berpuasa itu sangat besar pahalanya. Sapaan salam dan keramahan bagi pengunjung yang ikut sholat berjamaah akan sangat besar artinya. 

Ternyata ada kabar dari orang-orang sekitar bahwa masjid tersebut memang didominasi oleh satu kelompok tertentu. Mereka kurang berkenan jika ada pengunjung yang tak sepaham atau beda penampilan. 

Nah, pengalaman yang lain datang dari tetangga perempuan yang marah-marah karena dilarang untuk sholat maghrib di sana saat singgah dari pulang kantor. Sebabnya adalah karena ia tidak berkerudung meskipun memakai pakaian sopan. Yang boleh sholat di masjid itu hanya wanita-wanita yang sudah berpakaian syari menurut mereka. 

Nah, lo kesan pengalaman-pengalaman di atas bertolak belakang ya. 

Orang yang penampilannya kurang baik bisa jadi berhati baik dan berakhlak mulia. 

Orang yang penampilannya sangat baik bisa jadi tidak ramah dan kurang menghargai sesama muslim lainnya. 

Allah berfirman dalam al-hajj:37:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. 

Dari ayat di atas kita pelajari bahwa ketakwaan dalam hati itu lebih bernilai dan menentukan di sisi Allah dari segala hal yang bersifat materi. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al-hujurat:13) 


Takwa dan akhlak mulia


Ketakwaan dalam hati adalah kunci memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dan ketakwaan tidaklah tercermin dari penampilan luar. Karena ketakwaan itu ada dalam hati, dan hanya diketahui oleh Allah Swt. 

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian. (HR. Muslim) 

Ketakwaan memang tak terlihat namun ia bisa terpancar dari tingkah laku seorang muslim, semakin tinggi imannya semakin baik pula akhlaknya. 

 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِ.

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya. 

So, penampilan dan pakaian bukanlah tolok ukur ketakwaan pada Allah. Jadi tidaklah bijak jika kita menilai seseorang dari dua hal tersebut. Apalagi menganggap bahwa nilai kita di sisi Allah lebih baik dari orang lain. 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari uraian ayat dan hadits di atas:

1. Tidak boleh menilai orang lain dari penampilan luarnya karena kalau tidak benar maka bisa jatuh pada perbuatan suudzon. 

2. Ketakwaan tidak ditentukan oleh penampilan luar. Seperti cover sebuah buku, ia tidak menentukan kualitas buku. 

3. Ketakwaan dicerminkan oleh akhlak yang mulia. 

4. Tidak boleh merasa lebih baik dari muslim lainnya. 

5. Pakaian dan penampilan memang bukan tolok ukur ketakwaan. Tapi pakaian dan penampilan yang baik digunakan semata untuk menjalankan perintah agama, sebagai bagian dari syiar, sebagai jembatan menuju proses menjalankan agama dengan lebih baik. 

6. Akhlak dan pnampilan yang baik adalah sama- sama penting. Yang penampilannya sudah baik dan sesuai syar'i  seyogyanya harus tetap mengedepankan akhlak  sebagai hal yang paling utama. 

Dan yang belum berpenampilan baik harus belajar memperbaiki penampilannya untuk menyempurnakan kewajiban dan syiar agama. 

So, demikian ulasan mengenai artikel jangan melihat buku dari covernya. Semoga bermanfaat.... 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah

  Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik.  Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau ...