Sabtu, 28 November 2020

SIMFONI DZIKIR DAN TAFAKUR LUHUR





Tafakur


Apa yang sahabat pikirkan ketika melihat foto bumi atau galaksi-galaksi di luar angkasa seperti ini? 

Indah.....Maha karya luar biasa. 


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ   
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Al-imran : 190) 


Dalam kesibukan rutinitas sehari-hari kadang kita terkungkung di dalamnya, benak pikiran hanya penuh dengan agenda pekerjaan, beradu dengan segala macam kesibukan orang-orang sekitar. 

Mari sejenak arahkan pandangan kita ke langit malam, saat cahaya bulan dan bintang berpendar cahaya temaram dalam kelam, di antara barisan awan yang berjalan berbaris perlahan. 

Mari sesaat renungkan, bagaimana pemandangan eksotis itu tercipta ketika siang berganti malam. Matahari terbenam dan muncul bulan dan bintang. 

Ini contoh sederhana dari tafakur. 

Tafakur adalah berpikir, merenungkan. Dan yang dimaksud merenungkan di sini adalah  merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah (alam semesta). 

Tafakur luhur yang melahirkan rasa syukur. Syukur yang melahirkan cinta dan ketundukan hamba pada Sang Pencipta. 

Orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada ayat-ayat-Nya. 

Ayat-ayat Allah ada yang tertulis dalam kitab suci disebut dengan ayat-ayat naqliyah. Ada pula yang tersebar di seluruh jagad raya, yang bisa kita lihat atau kita teliti itu disebut dengan ayat-ayat kauniyah. 

Kesemuanya ayat-ayat itu menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan keesaan-Nya. 
Rasa Saw bersabda:

تفكروا في خلق الله ولا تتفكروا في ذات الله

Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang dzat Allah

Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh manusia dalam bertafakur. Yakni objek tafakur itu hanya terbatas pada ciptaan Allah. Jangan sampai melebihi batas kemampuan manusia untuk menjangkaunya, yaitu bertafakur tentang dzat Allah. Karena bagaimanapun cerdasnya otak manusia ia takkan mampu mencerna dan memahami secara ilmiah tentang dzat Tuhan Yang Maha Besar. 


Simfoni indera dan hati



Pada dasarnya manusia diberikan penglihatan, pendengaran dan segala inderanya  adalah sebagai potensi luar biasa untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di mana-mana. 

Bahkan di diri mereka sendiri terdapat jutaan keajaiban yang mempesona. 

Dalam surat Fusshilat ayat 53 :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ 
Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami di penjuru ufuk dan di dalam diri mereka sehingga tampak kepada mereka bahwa Alquran itu adalah benar

Tafakur bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Hanya perlu menajamkan mata penglihatan dan mata hatinya. 

Namun sayangnya banyak sekali yang menyia-nyiakan potensi tesebut dan malah menyalahgunakan fungsinya ke hal-hal yang dilarang agama. Seperti mata digunakan untuk melihat maksiat, telinga untuk mendengar ghibah, mulut untuk bergunjing, dan lain-lain. 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Hati adalah kunci aktivitas tafakur.  

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa orang yang tak mau bertafakur sejatinya tidak ada kerusakan apapun pada inderanya. Semua inderanya normal seperti biasa. 

Namun ketika hatinya tertutup oleh dosa maka mata hatinya menjadi buta. Dan ketika mata hatinya buta maka indera penglihatannyapun seolah buta, tak bisa melihat kebenaran dan tanda-tanda kebesaran IlahiIlahi di sekitarnya. 


Simfoni dzikir dan tafakur



الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النار

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 

Allah berfirman dalam surat al-imran ayat 191  bahwa ada keterkaitan antara dzikir dan tafakur. 

Dzikir akan mengarahkan hati dan seluruh indera bertafakur. 

Dzikir seperti air yang membersihkan noda dan kotoran yang menutupi hati, membuka tabir menuju cahaya Ilahi. Sehingga mata hati menjadi tajam kembali. 

Semakin sering dzikir dibaca semakin terbuka hati pembacanya. Semakin banyak dzikir dibaca semakin terang oleh nur Rabbani. 

Orang yang ingin mendapat cahaya iman akan memperbanyak dzikir di waktu apapun, saat berdiri, duduk, berbaring atau sambil melakukan aktivitas sehari-hari. 

Ketika hati terbuka, dipenuhi cahaya Rabbani maka seluruh inderanya akan berfungsi dengan baik. Segala yang tampak akan terarah pada kebesaran dan keagungan Allah Swt. 

Sebaliknya tafakur akan kekuasaan Allah mampu meningkatkan kualitas dzikir, menambah kekhusyukan dan kerinduan. 

Dzikir dan tafakur seperti dua simfoni yang saling menyempurnakan. 

Karenanya pada ayat tersebut Allah mendorong manusia untuk berdzikir dan bertafakur dalam rangka bertaqarrub pada-Nya dan memperoleh ridha-Nya. 

Demikianlah ulasan tentang dzikir dan tafakur. 

Semoga bermanfaat..... 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah

  Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik.  Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau ...