Segala di dunia ini tak ada yang abadi. Dan merupakan sunnatullah yang telah digariskan segala sesuatu di dunia ini ada batas masanya.
Ada hidup ada mati. Ada pertemuan ada perpisahan.
Teman-teman tahu?
Saat melepas anak menuntut ilmu belajar ke pesantren itu misalnya, yang sudah menjadi orang tua seperti penulis akan merasa kalau waktu menimang anak-anak kita sangat singkat.
Perasaan baru kemarin kita gendong, kita suapin, kita cebokin, kita mandiin. Begitu cepat mereka besar dan beranjak dewasa.
Waktu sungguh cepat berlalu.
Tak terasa kitapun menua, kulit tak sehalus tahun-tahun sebelumnya, mulai timbul garis halus keriput, uban mulai tumbuh, di sana-sini mulai timbul keluhan kesehatan, energi mulai berkurang.
Ternyata usia kita sudah kepala tiga, empat, lima dan seterusnya.
Kita jadi ayah, Ibu, kakek, nenek, buyut....
Hidup Sangat Sebentar
Hidup manusia di dunia sangat sebentar. Kita bertemu satu sama lain lalu berpisah.
Waktu sebentar itu bukan hanya perasaan saja, ini nyata.
Allah Swt berfirman dalam surat al-mukminun : 112-114:
قَٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ عَدَدَ سِنِيين
قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ ٱلْعَآدِّينَ
Coba kita ingat, sepertinya baru beberapa tahun yang lalu kita masih sekolah di taman kanak-kanak, masih menggenggam aneka mainan, kemudian tumbuh menjadi seorang remaja, bergelut dengan pelajaran mempersiapkan UN, tertarik pada lawan jenis, lalu tumbuh semakin dewasa, menempuh pendidikan di perguruan tinggi bagi yang kuliah, lalu terus tumbuh hingga menikah, memiliki pasangan hidup dan keturunan, hingga saat ini.
Kenangan dan peristiwa-peristiwa itu seolah masih berputar, bahkan kadang kita ingat momen-momen kejadian secara detail, baru kemarin.
Karena itu dalam ayat di atas dijelaskan bahwa di akhirat manusia melakukan dialog dengan Allah azza wa jalla, mereka ditanya tentang berapa lama hidup di dunia.
Mereka menjawab bahwa mereka hidup di dunia hanya sekitar sehari atau setengah hari saja.
Itu berarti mereka merasakannya sangat cepat. Seperti kemarin
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.
Jadi, hidup di dunia ini sejatinya adalah transit, singgah.
Dari kehidupan alam ruh kemudian menuju rahim ibu, lalu lahir dan singgah sebentar di dunia kemudian melanjutkan perjalanan menuju alam akhirat.
Nah, hidup di dunia singkat bukan?
Kematian itu pasti
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Persiapkan Amal Untuk Masa Depan
Sahabat....
Ternyata masa depan kita adalah akhirat, rumah masa depan kita adalah liang kubur yang berukuran kurang lebih 2.5x1.5 meter. Dan teman yang mendampingi kita adalah amal perbuatan semasa di dunia.
Hidup di dunia memang sementara. Namun hidup di dunia sangat menentukan masa depan.
Karena itu masa hidup di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.
ٱلْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.
Orang yang beriman pasti mengetahui bahwa kematian adalah suatu keniscayaan. Dan kematian bukanlah hal yang harus ditakutkan.
Tugas manusia hanya menyiapkan amal. Mempersiapkan diri dan mempersiapkan keluarga, menjaga diri dan keluarga serta orang-orang yang dicintai agar selamat dari api neraka.
Disebutkan dalam surat at-tahrim ayat 6:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Pertemuan Kembali
Ada pertemuan ada perpisahan.
Kematian adalah jembatan yang memisahkan antara orang yang mati dan orang yang ditinggalkan.
Bisakah mereka berjumpa dan berkumpul kembali?
Ya, kelak di akhirat kita bisa berjumpa dan berkumpul lagi seperti semasa di dunia.
Karenanya orang yang beriman tidak hanya harus menyiapkan bekal akhirat untuk dirinya sendiri tapi juga harus mengajak dan mempersiapkan keluarganya serta orang-orang yang dicintainya agar berada di jalur yang sama. Supaya berada dalam kelompok yang sama. Yaitu sebagai penghuni surga.
Jadi kematian adalah perpisahan sementara, dengan anak, orang tua, pasangan hidup, saudara dan keluarga.
Namun kelak akan ada pertemuan kembali, pertemuan antara orang-orang bertakwa dengan orang-orang bertakwa lainnya, antara orang-orang durjana dengan orang-orang durjana lainnya.
So, jangan sampai pertemuan di akhirat nanti hanya berakhir nestapa bagi kita.
Tak bisa lagi berjumpa dan berkumpul dengan orang-orang yang dicinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar