Jangan berkata "jangan"!
Dalam teori pendidikan masa kini sering kita menjumpai larangan menggunakan kata "jangan" terhadap anak .
Alasannya adalah karena memberikan kesan negatif yang membuat anak semakin ingin mencoba hal yang dilarang sebab lebih fokus terhadap kata di belakang kata "jangan". Contoh jangan lari, jangan bohong dan lain-lain.
Selain itu akan menyebabkan anak menjadi kurang kreatif dan rendah inisiatif, karena terlalu dikungkung dan dibatasi ruang geraknya.
Orang tua atau guru diarahkan untuk mengganti kata jangan dengan kata perintah seperti "sebaiknya berjalan saja", "bicaralah yang jujur". Hal ini dianggap lebih positif dan memberikan hasil yang lebih baik.
Lalu sebenarnya apa kata Al-quran tentang hal ini?
Konsep pendidikan dalam Al-quran
Konsep pendidikan Islam yang mengacu pada Al-quran mengajarkan keseimbangan dan keselarasan untuk mendidik dan membentuk generasi Islam yang kaffah.
Generasi Islam yang kaffah adalah generasi Islam yang mengamalkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, tidak setengah-setengah.
Salah satu kisah yang diangkat oleh Al-quran sebagai gambaran bagi umat manusia tentang konsep pendidikan ideal adalah kisah Luqman Al-Hakim.
Bahkan kisah tersebut diabadikan dalam satu surat khusus bernama surat Luqman.
Siapakah Luqman Al-hakim? Luqman Al-hakim adalah seorang bapak yang sholeh yang kisahnya diabadikan dalam Al-quran.
Apa saja poin-poin penting yang disampaikan oleh Luqman Al-hakim kepada anaknya dalam surat ini?
a. Jangan menyekutukan Allah (menanamkan akidah Tauhid)
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
Mari kita perhatikan ayat ini (Luqman:13). Dalam pesan pertama Allah Swt menggunakan redaksi "ya bunayya" yang artinya anakku sayang. Redaksi ya bunayya digunakan sebanyak tiga kali.
Hal ini mengajarkan tentang perlunya ungkapan kasih sayang dari orang tua pada anaknya melalui panggilan sayang seperti contoh di atas.
Panggilan sayang bisa disesuaikan dengan budaya tiap bangsa maupun suku. Seperti entong untuk anak laki-laki dan neng untuk anak perempuan pada suku Betawi di Indonesia, atau kacong dan jebing pada suku Madura, tole dan nduk pada suku Jawa, dan lain sebagainya.
Kemudian pada redaksi ayat ini secara tegas Allah Swt menggunakan fiil nahi.
Fiil nahi adalah bentuk larangan yang diawali dengan kata "jangan".
Ayat ini mengandung pesan pentingnya penanaman akidah tauhid.
Tauhid adalah pesan utama yang harus dikenalkan dan disampaikan pertama kali dalam pendidikan anak.
b. Takutlah kepada Allah di manapun berada (menanamkan ketakwaan kepada Allah)
يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Pada ayat ini (Luqman:16) Allah Swt menggunakan redaksi pengandaian dan perumpamaan, bukan perintah maupun larangan. Hal ini berguna untuk mengilustrasikan betapa pentingnya ketakwaan kepada Allah.
c. Dirikanlah sholat dan amar makruf nahi munkar (perintah beribadah kepada Allah dan berdakwah)
يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Pada ayat ini (Luqman:17) Allah Swt menggunakan fiil amar sebagai penekanan perintah beribadah dan berdakwah.
Beribadah dan berdakwah harus disertai dengan kesabaran terhadap berbagai rintangan. Dengan sabar maka beribadah kepada Allah dan melaksanakan kewajiban dakwah akan bisa terlaksana dengan istiqamah (konsisten)
d. Jangan bersikap sombong (perintah berakhlak mulia terhadap sesama)
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Konsep pendidikan dalam surat Luqman sangat apik dan relevan dengan pendidikan generasi Islam kaffah setiap masa, khususnya generasi milenial saat ini.
Tema pendidikan diurut sesuai skala prioritas. Dimulai dari hal terpenting yaitu menanamkan keyakinan tentang keesaan Allah Swt, mendorong anak untuk bertakwa kepada-Nya, beribadah, berdakwah, lalu kewajiban bermuamalah (hidup bersosial) dengan akhlak mulia.
e. Perintah menjaga etika dan sopan santun (akhlak mulia)
Akhlak mulia harus disertai sikap sopan santun dan sesuai dengan etika yang ada masyarakat.
Salah satunya adalah berjalan dengan cara yang sederhana dan tidak mengundang perhatian serta melunakkan suara yang menyiratkan keramahan terhadap siapa saja.
Pelajaran-pelajaran yang terkandung dalam surat Luqman
Nah, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari penjelasan konsep pendidikan Islam dalam surat Luqman, di antaranya:
1. Diperbolehkan melarang anak dengan kata "jangan" sebagaimana dilakukan oleh Luqman Al-hakim untuk hal-hal yang sangat penting yang memerlukan penekanan lebih.
Hal ini menunjukkan bahwa melanggar larangan tersebut dampaknya sangat berbahaya bagi anak.
Contoh ketika anak akan mendekati api yang berkobar tentu kita harus melarang secepatnya dengan berkata "jangan" (Jangan dekati api itu!!)
Karena di saat yang genting seperti itu mengganti larangan dengan kata perintah (seperti "pergi dari situ!") tidaklah efektif.
Jadi bisa dipahami ya bahwa melarang dengan kata "jangan" itu tetap diperlukan.
Namun memang tidak boleh dilakukan terlalu sering dan berlebihan sehingga menimbulkan kesan posesif terhadap anak.
Karena akan ada dampak buruk yang timbulkan seperti anak menjadi kurang percaya diri, menjadi pemberontak dan tidak berani berpendapat atau mengambil keputusan.
Hal ini dibenarkan oleh Psikolog klinis, Dra. Ratih Ibrahim, M.M. dalam harian m. merdeka.com, ia mengatakan bahwa kata jangan tetap harus digunakan untuk menghindari bahaya, untuk hal-hal yang penting dan prinsip.
Nah, ini menunjukkan kalau ajaran Islam adalah ajaran yang santun, maju dan selaras dengan perkembangan zaman
2. Kisah Luqman Al-hakim tertera pada ayat ke13-19. Pada ayat ke 14 dan 15 kisah Luqman Al-hakim disela oleh ayat yang mengetengahkan tentang kewajiban taat dan berbuat baik kepada orang tua.
Hal ini menunjukkan perhatian Allah Swt pada hubungan antara orang tua dan anak. Kewajiban orang tua adalah mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik, sedangkan kewajiban anak adalah memuliakan dan berbuat baik kepada orang tuanya.
Berbuat baik kepada orang tua selamanya harus dilakukan oleh anak. Bahkan seandainya orang tua menyuruh kemaksiatan maka anak harus tetap berbuat baik kepadanya meskipun tidak boleh mentaatinya.
3. Pada tiga ayat dikisahkan bahwa Luqman Al-hakim memanggil anaknya dengan panggilan sayang "ya bunayya".
Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengawal tauhid dan mendidik anak harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut.
Karena dengan kasih sayang anak akan lebih mudah menangkap dan menyerap pesan-pesan yang disampaikan.
Sebaliknya bila pendidikan dilakukan dengan bentakan dan kata-kata kasar maka hal tersebut hanya akan menuai kebencian anak terhadap orang tuanya.
Sehingga suatu saat anak akan mencari orang lain untuk mendapatkan kasih sayang dan rasa aman. Nah, akan sangat berbahaya sekali bila orang tersebut adalah orang yang tidak baik dan jauh dari agama. Anak kita bisa ikut terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan.
Naudzubillah min dzalik.
4. Kisah yang diangkat dengan tema besar pendidikan dalam al-quran adalah kisah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama pertama kali harus dilakukan oleh orang tua. Jadi tugas orang tua selain mengasuh dan merawat anak adalah memberikannya pendidikan agama.
5. Dalam penyampaiannya Luqman Al-hakim menggunakan skala prioritas untuk menunjukkan mana yang lebih penting untuk disampaikan terlebih dahulu.
Pertama ia menyampaikan tentang kewajiban mengesakan Allah, lalu yang kedua pentingnya bertakwa kepada Allah, yang ketiga kewajiban beribadah, berdakwah dan disertai kesabaran, yang keempat pentingnya berakhlak mulia dalam kehidupan bersosial dan pentingnya menjaga sopan santun dan etika.
Demikianlah sekelumit ulasan tentang berkata jangan pada anak dari sudut pandang Al-quran.
Semoga bermanfaat, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menerapkan konsep pendidikan yang sesuai dengan ajaran Al-quran......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar