Jumat, 04 Desember 2020

Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah



 




Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik. 

Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau sakit perut, sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit gigi, apalagi sakit hati....hehehe. Kalau ada mengatakan sakit itu enak mungkin sakitnya bohongan. 

Namun, Allah Swt memberi keistimewaan bagi orang yang beriman dengan memberi segudang hadiah melalui sakit. 

Apa saja hadiahnya? 

1. Sakit menjadi penebus dosa yang telah lalu. 

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ 
سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya

Berapa banyak dosa-dosa kita?. Tak terhitung ya saking banyaknya. Mulai dari dosa berkaitan dengan ibadah kepada Allah, berprasangka buruk kepada Allah. Lalu dosa kepada sesama manusia, A, B, C, D dan seterusnya. 

Lalu dosa yang dilakukan hati mulai dari iri, dengki, dendam, suudzon, dan lain-lain. Lalu dosa mata, dosa mulut, tangan, kaki, dan sebagainya, yang besar, yang kecil, yang masih ingat, yang sudah lupa, yang sengaja, yang tak sengaja, yang tampak oleh manusia, yang tak tampak. 

Kalau dosa itu terus menumpuk, lama-lama kita tertimbun oleh dosa yang memberatkan langkah kita kelak di akhirat. Yang menjadi sumber kesedihan dan kesengsaraan kita. 

Nah, datangnya sakit itu seperti hadiah dari Allah Swt untuk meringankan timbangan dosa kita. Itu adalah rahmatnya Allah pada kita karena bisa jadi selama hidup kita lengah dalam bertaubat dan dosa yang menggunung dibawa mati. Naudzubillah min dzalik. 


2. Sakit mengangkat derajat

Bagaimana bisa sakit mengangkat derajat seorang mukmin?. Ya, orang yang benar-benar beriman ketika mengalami sakit akan menjadi lebih peka terhadap teguran dari Penciptanya. 

Ketika merasakan sakit maka ia akan ingat betapa nikmatnya sehat dan bersyukur kepada Allah, lalu bertekad akan memperbaiki kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan setelah sembuh. 

Menyadari kalau sakitnya adalah teguran dari Allah Swt dan memperbanyak istighfar, serta menyadari kalau sakitnya itu menggugurkan dosanya maka bersyukur. 

Di situlah derajatnya diangkat oleh Allah, menjadi dekat kepada Allah. 


مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Tidak ada satupun musibah (cobaan) yg menimpa seorang muslim berupa duri atau yg semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya. 

3. Orang sakit dikabulkan doanya

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan

Dalam surat an-naml ayat 62 Allah Swt menyatakan bahwa ia akan mengabulkan doa orang-orang yang berada dalam kesulitan dan kesusahan namun sabar dan yakin pada pertolongan Allah. 

Orang sakit termasuk dalam kategori orang yang sedang tertimpa kesulitan dan kesusahan. Ia kesulitan menjalani kegiatan dalam kehidupan sehari-hari karena sakit yang dideritanya. Karena rasa sakitnya biasanya orang sakit dirundung kesedihan dan kesusahan yang dalam. 

Nah, Allah Swt yang Maha Pengasih Penyayang menghibur dan memberinya hadiah atas rasa sakit yang dialami oleh orang mukmin namun tetap sabar dan tabah dengan mengabulkan permintaannya. 

Bagaimana Allah Swt mengabulkan doanya? 

Allah mengabulkan doa dengan banyak cara, dan cara Allah adalah cara terbaik bagi hamba-Nya. 

Doa bisa dikabulkan saat masih hidup di dunia atau kelak saat di akhirat, bisa cepat atau lambat atau bisa juga diganti dengan sesuatu yang lebih baik karena Allah Swt Maha Tahu mana yang terbaik. 

Dari ulasan di atas, maka jelas bahwa sakit bagi orang mukmin itu selain adalah musibah tapi juga adalah nikmat. Musibah karena ia harus menderita rasa sakit, tapi juga nikmat karena berbagai karunia yang diberikan oleh Allah lewat sakit. 

Nabi Saw bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya

Intinya segala sesuatu bagi orang mukmin itu akan menjadi kebaikan dan ladang pahala bila dijalani sesuai petunjuk Allah Swt. 

Dia tidak pernah sendiri, tidak pernah rugi, tidak pernah sedih dan ditinggalkan. Justru sebaliknya ia menjadi orang yang beruntung tak hanya saat hidup di dunia tapi juga di akhiratnya. 

Demikian ulasan kali ini, semoga kita bisa menjadi mukmin yang sabar dan ikhlas saat mendapat cobaan sakit. 

Semoga bermanfaat. 

Rabu, 02 Desember 2020

Benarkah Gunung Merapi Bisa Berjalan?




Siapa yang tahu Gunung Merapi? 

Gunung Merapi adalah Gunung tinggi yang terletak di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ia adalah gunung berapi teraktif di Indonesia yang memiliki siklus erupsi sekitar 2 dan 5 tahun. Tercatat sejak tahun 1006 telah terjadi erupsi dahsyat pada Gunung Merapi ini. 

Sejak tanggal 5 November 2020 gunung Merapi sudah berstatus siaga III. Gunung ini mengalami gempa berbahaya dan memuntahkan lava vulkanik sehingga penduduk di area sekitarnya harus mengungsi. 

Bersamaan dengan meletusnya gunung merapi ternyata gunung Ile Letowolok di Nusa Tenggara Timur dan gunung Semeru di Jawa Timur juga meletus pada tanggal 30 November dan 1 Desember tahun ini. 

Di atas permukaan bumi memang terdapat gunung-gunung yang terpancang baik aktif maupun tidak aktif. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki banyak gunung aktif karena berada di zona sabuk sirkum-pasifik atau yang juga dikenal dengan ring of fire (cincin api).

Gunung-gunung berapi aktif tersebar di sekitar cincin api karena disebabkan pergerakan lempeng tektonik di daerah tersebut. 


Pasak Bumi



Gunung adalah salah satu ciptaan Allah Swt yang istimewa, benda-benda raksasa ini sering disebut dalam al-quran dengan fungsi khusus menjadi pasak bumi. 

وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا
Dan gunung-gunung sebagai pasak

Apa yang dimaksud dengan gunung menjadi pasak bumi? 

Dr. Frank Press seorang ahli geologi ternama Amerika Serikat sekaligus penulis buku berjudul Earth mengungkapkan bahwa gunung serupa dengan pasak yang kokoh yang menjaga stabilitas kerak bumi dari goncangan hebat akibat gerakan cairan panas atau magma yang ada dalam perut bumi. 

Gunung adalah lipatan kerak bumi yang terbentuk akibat pergeseran kerak bumi yang membesar dan menjulang tinggi. 

Namun gunung yang nampak di permukaan dan menjulang tinggi itu pada dasarnya adalah sebagiannya saja. Sebagiannya berupa akar gunung yang tertanam jauh di dasar bumi. 

Dalam surat al-anbiya : 31 dan al-mursalat :27 Allah Swt berfirman:

وَجَعَلْنَا فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) guncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (Al-anbiya : 31) 

وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا
Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami memberimu minum air tawar. 

Gunung-gunung yang besar itu sebagian besar menjadi rumah berbagai macam kehidupan makhluk hidup. Mereka mendapatkan sumber makanan dan sumber air yang memancar di sungaim-sungai dan mata air. 

Tanah yang subur yang terdapat pada gunung-gunung berapi yang aktif menumbuhkan pepohonan dan hutan, juga memungkinkan manusia untuk tinggal dan bercocok tanam  menghasilkan berbagai sayuran dan buah-buahan. 

Letusan gunung berapi aktif memang memberi dampak positif bagi kesuburan tanah, di samping dampak negatif yang ditimbulkan. 


Gunung-gunung berjalan


Segala ciptaan-Nya yang ada di alam semesta ini penuh dengan keajaiban. Berbagai fakta ilmiah ditemukan baru-baru ini namun sebenarnya sudah diceritakan oleh Al-Quran sejak 14 abad yang lalu. 

Di antaranya adalah bahwa gunung-gunung di bumi itu sebenarnya bisa berjalan. Wow...... 

Allah Swt berfirman dalam surat An-naml 88 :

وَتَرَى ٱلْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِ ۚ صُنْعَ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ أَتْقَنَ كُلَّ شَىْءٍ ۚ إِنَّهُۥ خَبِيرٌۢ بِمَا تَفْعَلُونَ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

Gunung tercipta dari lempeng bumi yang bergerak dan bergeser membentuk lipatan-lipatan-lipatan besar. Lempeng bumi adalah lapisan-lapisan kerak terluar magma yang mempunyai ketebalan sekitar 100 kilometer. 

Lempeng bumi mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat dan bergeser setiap tahunnya dengan kecepatan 1-5 cm membawa benua dan dasar laut. 

Nah, seiring dengan pergerakan dan pergeseran lempeng bumi. Maka gunung-gunung yang berada di atasnya juga ikut bergerak dan bergeser dari tempatnya semula. 

Para pakar geologi modern menyebut peristiwa ini dengan sebutan continental drift atau gerakan mengapung dari benua. 

Karena itulah Al-Quran menyebut gunung berjalan seperti awan, perlahan tapi pasti meski tak dirasakan oleh manusia yang berada di atasnya. Hal tersebut benar-benar fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui sains dan teknologi. 

Nah, ternyata gunung Merapi itu berjalan seperti kita ya sahabat........ Bukan hanya Merapi, tapi Semeru, Ile Letowolok dan seluruh gunung-gunung di dunia ini bisa berjalan laksana awan seperti kata ayat Al-Quran di atas. 




Selasa, 01 Desember 2020

Membaca Jendela Ilmu



Iqra'


Iqra' bismillah rabbika al-ladzi kholaq! 

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan! "

Adalah ayat pertama sekaligus perintah pertama yang turun kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. 

Bacalah!, ayat ini beserta 4 ayat berikutnya mengetengahkan tentang perintah membaca. 

Ayat ini turun diawali dengan peristiwa di gua Hira ketika Nabi didatangi malaikat Jibril saat melakukan tahannuts (berdiam diri untuk beribadah)  dan memerintahkannya untuk membaca. 

Meskipun Nabi Saw menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca sebagai seorang yang ummi ( buta huruf) namun malaikat Jibril tetap memerintahkannya untuk membaca sampai ketiga kali,  kemudian malaikat Jibril membacakan 5 ayat pertama surat al-alaq dan Nabi mengikuti bacaannya. 


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ    خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ    اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ    الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ    عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


Manfaat membaca


Apa pelajaran yang terkandung dalam kisah di atas? 

Pertama, Pertama kali Nabi Saw mendapat wahyu adalah berisi perintah membaca padahal saat itu beliau sama sekali tidak bisa membaca. 

Nah, hal ini menunjukkan pentingnya baca tulis dalam kehidupan manusia. 

Ketidakbisaan Nabi Saw membaca dan menulis memang memiliki hikmah tersendiri terhadap pembuktian kebenaran risalah yang dibawa. Dengan beliau tidak bisa membaca maka telah meruntuhkan tuduhan musuh-musuhnya bahwa beliau mempelajari agama Islam dari kitab-kitab samawi terdahulu. 

وَمَا كُنتَ تَتْلُوا۟ مِن قَبْلِهِۦ مِن كِتَٰبٍ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّٱرْتَابَ ٱلْمُبْطِلُونَ

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

Jadi, perintah malaikat Jibril untuk membaca tidaklah merendahkan kedudukan Nabi Saw sebagai makhluk paling mulia. Karena keadaan beliau yang ummi tidak mengurangi sedikitpun kecerdasan beliau sebagai seorang Nabi. Kecerdasan adalah satu syarat di miliki oleh seorang nabi. Dan kecerdasan Rasulullah Saw tak tertandingi dan telah terbukti dalam kisah perjuangan beliau menyampaikan ajaran Islam. 

Diulang-ulangnya perintah membaca sebatas mengajarkan manusia tentang pentingnya pendidikan, baca tulis, eksplorasi Ilmu pengetahuan yang hakikatnya terkait dengan eksplorasi kekuasaan dan keagungan Tuhan. 

Kedua, membaca adalah jendela ilmu. Berbagai ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan membaca. Semakin banyak membaca semakin banyak ilmu yang didapat. 

Peribahasa yang lain mengatakan kalau membaca adalah jendela dunia. Meskipun kita tak dapat menjangkau perjalanan seluruh dunia namun dengan membaca kita bisa tahu apa yang terjadi di ujung dunia bahkan di luar angkasa sekalipun. 

Al-Quran menuntun manusia untuk menjadi makhluk yang cerdas yang bisa memfungsikan kecerdasannya untuk kemaslahatan kehidupan di dunia, bisa mengolah dan mengelola kekayaan bumi yang ditempatinya sebagai pengemban tugas khalifah, wakil Allah di muka bumi. 

Ketiga, Al-quran sebagai kalamullah atau firman Allah Swt tidak hanya berisi pesan-pesan dan wahyu namun juga berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus dibaca dan dipelajari. 

Bahkan Allah sangat mengapresiasi kegiatan membaca yang dilakukan oleh orang-orang beriman untuk mengeksplorasi pengetahuan dan ajaran agama. 

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.  

Aktifitas membaca adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Kegiatan membaca tidak hanya memberi pengetahuan tapi  mampu mengarahkan manusia pada pola pikir dan gaya hidup yang lebih baik. 

Semakin banyak membaca berarti semakin banyak memahami, semakin banyak membaca akan mendorong manusia untuk beraksi dan mengamalkan. 

Karena itu manusia diperintahkan untuk banyak-banyak membaca Al-Quran. Semakin banyak ia membaca Al-Quran maka akan menumbuhkan kecintaan, penahaman dan menghasilkan pengamalan yang berbuah syafaat di hari kiamat. 

اقرؤوا القرآن فإنه يأتى يوم القيامة شفيعاً لأصحابه

Bacalah alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi yang membacanya

Keempat, membaca seyogyanya diawali dengan menyebut nama Allah Yang Maha Esa. 

Sebagaimana dalam surat al-alaq ayat 1-5, dijelaskan bahwa Allahlah yang menciptakan manusia dan mengajarkan pengetahuan lewat media baca tulis. Mengajarkan hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya. 

Karena itu sudah sepatutnya kegiatan membaca diawali dengan menyebut nama-Nya. Kegiatan membaca dilandasi dengan niat ibadah, dan hasil pengetahuan yang didapatkan dari kegiatan membaca adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan bukan untuk kejahatan dan pengrusakan. 

Membaca tidak hanya sekedar membaca. Tapi materi yang dibaca haruslah yang baik-baik sesuai dengan filosofi dalam penyebutan nama Allah. 

Kelima, salah satu manfaat membaca adalah mengasah kecerdasan dan mencegah kepikunan. 

Semakin kecerdasan itu di asah maka  kecerdasan akan semakin bertambah. 

Otak terdiri dari jutaan sel-sel yang saling terhubung.  Kegiatan membaca akan memberikan stimulasi pada otak sehingga sel-selnya terhubung secara aktif dan bekerja dengan baik. 

Karena itu banyak membaca akan berpengaruh pada meningkatnya daya ingat, konsentrasi dan kemampuan analisa. 

Selain itu manfaat lain dari membaca adalah mencegah kepikunan atau di sebut dengan penyakit Alzheimer. 

Penyakit Alzheimer biasanya menyerang pada orang yang sudah lanjut usia, tetapi di kasus-kasus langka ternyata juga bisa menyerang orang yang masih muda. 

Dalam dunia kedokteran disebutkan bahwa penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental lainnya dengan menurunkan koneksi sel otak secara signifikan. 

Jadi, dari ulasan di atas dapat diketahui kalau manfaat membaca itu banyak sekali ya. Bukan hanya dari segi kecerdasan dan menambah wawasan saja  tapi juga bermanfaat bagi kesehatan. 

Pantaslah bila Al-Quran memerintahkan manusia untuk membaca bahkan di wahyu pertama. 

Yuk membaca........ 




Senin, 30 November 2020

Ayo Menjadi Muslim Yang Produktif



Apa itu produktif? 

Produktif adalah kata sifat dari produksi, artinya mampu menghasilkan. Jadi orang yang produktif adalah orang yang menghasilkan karya, menghasilkan keuntungan atau memberi manfaat bagi orang lain. 

Produktivitas itu terbentuk dari kemauan, dan akan berkembang dengan usaha, belajar dan kerja keras. 

Kemauan juga tidak tumbuh begitu saja tapi harus ada dorongan yang menggerakkan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. 

Dorongan dari dalam diri sendiri contohnya seperti ingin mengubah nasib, menjadi orang yang lebih baik atau ingin bermanfaat dan membahagiakan orang lain. 
Dorongan dari luar contohnya terinspirasi dari orang lain, mendapat motivasi dari orang lain atau dari ajaran agama. 

Islam mendorong manusia untuk hidup produktif dan bermanfaat. 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ  وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Surat al-insyirah ayat 7-8 mengajarkan manusia untuk menjauhi sikap malas. Mereka dituntun untuk memanfaatkan waktu yang diberikan dan mengisinya dengan hal-hal bermanfaat. 

Coba kita perhatikan, setelah melakukan satu urusan manusia didorong untuk melakukan hal lain tanpa bermalas-malasan. 

Karena sikap malas akan melenyapkan berbagai kesempatan. Menyia-nyiakan waktu akan mengakibatkan ketertinggalan dalam berbagai aspek. 


Ayo bekerja! 



Manusia diberi kemampuan untuk melakukan banyak hal, diberikan energi dan kreatifitas untuk menciptakan karya-karya besar yang memajukan kehidupan mereka. 

Manusia diberi karunia berupa akal yang  kecerdasannya terus berkembang dari waktu ke waktu sehingga berhasil membangun peradaban maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir hingga sekarang. 

Orang-orang yang cerdas dan pekerja keras akan selalu mengeksplorasi kemampuan dan kecerdasan mereka tanpa batas waktu dan usia. 

Di negara-negara maju, semakin tua usia seseorang maka ia akan semakin matang, kreatif dan produktif. 

Masa muda digunakan untuk bekerja keras, masa tua juga digunakan untuk menikmati kesuksesan dengan melanjutkan kerja keras bukan berleha-leha atau beristirahat. 

Hal ini senada dengan kata Al-Quran surat at-taubah ayat 105:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Mari kita tengok negara maju yang berkembang pesat saat ini. Salah satunya adalah negara china yang melaju cepat menjadi negara adidaya baru berkat kegigihan dan kerja keras masyarakatnya. 

Mereka mulai mewujudkan mimpi dan cita-cita mereka "everything is made in China by 2025" dengan tak henti berkreasi dan berinovasi. 

Coba lihat barang-barang yang kita gunakan dan kita beli selama ini. Hampir semua  berlabel "Made in China". Label ini kita temui di mana-mana, di berbagai jenis barang dengan kualitas bagus dan harga murah. 

Saat masyarakat China ditanyakan tentang kunci kesuksesan mereka dalam membangun perekonomian raksasa yang telah menguasai pasar dunia. Mereka hanya berkata " kami lebih cepat dan kami lebih bekerja keras". 

Mereka terus mengembangkan kemampuan di segala bidang, dan hasil pencapaian memang tak pernah mengkhianati usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan. 

Nah, bangsa China di sini hanyalah sekedar contoh bagaimana negara berkembang ataupun seseorang dapat memperoleh keberhasilan lewat kreativitas, produktivitas dan kerja keras. 

Yang diraih oleh orang-orang sukses adalah buah kerja keras yang melampaui orang-orang lainnya. Mereka bergerak cepat mengambil kesempatan, mengalahkan rasa malas, tak gampang patah atau menyerah, mengerahkan seluruh kemampuan dan tak banyak bersantai. 

Dalam at-taubah 105 Allah menggugah umat Islam untuk bergerak maju mengejar ketertinggalan, bangkit dari keterpurukan dan memupuk harapan. Karena sebuah kesuksesan itu diawali dan disertai harapan. 

Kita tak perlu malu untuk meniru umat yang lain. Karena bagi orang beriman setiap langkah dan kerja kerasnya bernilai ibadah dan kelak akan mendapat balasan. 

Kerja keras dalam belajar, berkarya, berinovasi, membangun perekonomian skala kecil atau skala besar, memajukan pendidikan, menegakkan keadilan, melestarikan lingkungan, melayani masyarakat dan lain-lain haruslah dilandasi dengan ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah. 

Karena Allah Swt akan menilai dan membalas segala kerja keras kita di dunia sesuai dengan niat dan keikhlasan kita seperti diingatkan dalam ayat di atas. 


Jangan malas! 



Nabi Saw mengingatkan dalam hadits berikut tentang pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena tiap detik waktu yang kita lewati itu tak akan kembali. 


اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang matimu.

Terlalu banyak bersantai dan bermalas-malasan adalah penyebab kegagalan terbesar dalam banyak hal. 

Dengan kata lain malas bekerja dan malas beribadah itu sumber kegagalanseorang muslim di dunia maupun kegagalan di akhirat. 

Hal ini ditegaskan kembali dalam surat al-ashr:

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا 
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. 

Nah, kawan-kawan.......... Yuk, menjadi muslim yang produktif dalam berbagai bidang
Mari kita niatkan sebagai ibadah li i'lai kalimatillah dan pengamalan ayat-ayat alquran. 






Sabtu, 28 November 2020

JANGAN MELIHAT BUKU DARI COVERNYA


Jangan menilai buku dari covernya! 

Sepertinya ini adalah salah satu peribahasa yang unik dan relevan dengan keadaan masyarakat kita sekarang ini yang kebanyakan masih suka menilai orang dari penampilannya. 

Karena sering kali penilaian yang hanya berdasarkan penampilan itu salah, dan  termasuk suudzon atau berprasangka buruk. 

Ada pengalaman pribadi penulis yang memberi pelajaran tentang hal tersebut. 

Tahun 2012 silam saat penulis beserta keluarga kecil balik mudik dari Jawa Timur ke Bekasi Jawa Barat. Kami singgah di sebuah masjid di Yogyakarta saat dini hari untuk beristirahat dan menghilangkan penat. 

Masjid itu terletak di sebelah kiri jalan raya. Agak jauh di sisi jalan terdapat barisan ruko yang sudah tutup. Suasananya gelap gulita. Namun disebelah deretan ruko tersebut nampak ada satu bangunan temaram oleh lampu kelap-kelip berwarna-warni. 

Terdengar alunan suara musik pop yang memecah kesunyian dari sana. 

Sesekali ada beberapa pria keluar masuk. Namun yang menjadi perhatian kami saat mengamati suasana sekitar dari dalam mobil adalah keluarnya pasangan laki-laki dan perempuan berpakaian terbuka dengan bermesraan. 

Meskipun jaraknya agak jauh namun nampak jelas karena cahaya bulan yang sesekali muncul. Karena itu kami berkesimpulan kalau tempat itu adalah tempat karaoke atau bar. 

Karena pak supir terlampau capek maka kami putuskan untuk memasuki gerbang masjid. 

Masjid itu lumayan agak luas dengan beberapa pohon di depannya

Ternyata di sisi sebelah masjid ada sekerumunan anak muda yang sebagian nongkrong di sepeda motornya. Mereka asik mengobrol sambil menghisap rokok. Rata-rata pakaian mereka khas anak muda jalanan dengan kaos pendek dan celana pendek atau celana jeans berlubang bagian lututnya. 

Saat turun dari mobil rasanya kurang nyaman berada di masjid itu. Kami  diperhatikan oleh mereka. 

Entah itu anak-anak jalanan atau remaja masjid. Tapi kalau melihat pakaiannya setiap orang pasti berpikir mereka adalah berandalan yang kebetulan nongkrong di masjid. Lalu ke mana penjaga masjidnya?. 

Karena ingin ke kamar mandi yang terletak di ujung masjid pas di belakang anak-anak muda itu berkerumun penulispun memberanikan diri bertanya. 

Dan tak disangka ternyata mereka menjawab dengan sopan. Bahkan setelah selesai dari kamar mandi salah satu dari mereka menghidupkan lampu satu sisi masjid, menggelarkan tikar serta mempersilahkan kami untuk istirahat. 

Setelah dikonfirmasi ternyata mereka adalah remaja sekitar yang berjaga agar masjid tidak dimasuki orang-orang mabuk dari seberang jalan. 

Itulah sekelumit pengalaman yang mengajarkan bahwa kadang kenyataan tak sesuai dengan yang terlihat, isi tak sesuai penampilan luarnya. 

Pengalaman lain datang saat penulis mengantarkan pesanan baju sambil mendorong kereta adik bayi yang masih berumur sekitar 5 bulan ke rumah seorang tetangga yang sangat agamis dari segi penampilan.  

Setelah mengucapkan salam di depan rumah ternyata yang keluar adalah seorang laki-laki. Namun bukannya menjawab salam tapi dengan kasar dan muka masam ia menanyakan ada apa. 

Tentu bagi seorang ibu-ibu yang bertamu baik-baik untuk keperluan mengantar pesanan sambil menggendong seorang bayi ini kurang mengenakkan. 

Alangkah baiknya jika salam dijawab dan ditanya keperluannya dengan sopan. Karena di komplek perumahan yang di jaga satpam selama 24 jam yang bisa bertamu pastilah hanya tetangga atau orang yang telah diverifikasi. 

Pengalaman lainnya datang dari beberapa tetangga yang juga mengisahkan hal-hal tak terduga. 

Pada bulan Ramadhan seorang tetangga laki-laki sedang bepergian dan pulang menjelang maghrib. Di tengah jalan tiba-tiba hujan deras turun dan memaksanya harus berteduh bersama beberapa musafir yang kehujanan di sebuah masjid. 

Ternyata di masjid tersebut sedang diadakan acara buka bersama. Sekelompok orang laki-laki dan perempuan berpakaian muslim-muslimah dengan penampilan sangat baik dan religius lalu lalang, berkumpul dan bersiap-siap  menyiapkan menu berbuka. 

Saat azan maghrib berkumandang ia mengira akan mendapatkan setidaknya segelas air mineral untuk berbuka bersama para musafir lainnya yang berteduh dari hujan. 

Namun sayangnya tak ada sapaan atau bahkan air untuk berbuka dari para jamaah masjidnya sampai sholat maghrib usai. 

Para musafir hanya menyaksikan jamaah masjid tersebut berbuka puasa dengan berbagai makanan dan minuman tanpa ada yang menghiraukan dan menawarkan. 

Miris, pada bulan Ramadhan seteguk air untuk orang yang berpuasa itu sangat besar pahalanya. Sapaan salam dan keramahan bagi pengunjung yang ikut sholat berjamaah akan sangat besar artinya. 

Ternyata ada kabar dari orang-orang sekitar bahwa masjid tersebut memang didominasi oleh satu kelompok tertentu. Mereka kurang berkenan jika ada pengunjung yang tak sepaham atau beda penampilan. 

Nah, pengalaman yang lain datang dari tetangga perempuan yang marah-marah karena dilarang untuk sholat maghrib di sana saat singgah dari pulang kantor. Sebabnya adalah karena ia tidak berkerudung meskipun memakai pakaian sopan. Yang boleh sholat di masjid itu hanya wanita-wanita yang sudah berpakaian syari menurut mereka. 

Nah, lo kesan pengalaman-pengalaman di atas bertolak belakang ya. 

Orang yang penampilannya kurang baik bisa jadi berhati baik dan berakhlak mulia. 

Orang yang penampilannya sangat baik bisa jadi tidak ramah dan kurang menghargai sesama muslim lainnya. 

Allah berfirman dalam al-hajj:37:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. 

Dari ayat di atas kita pelajari bahwa ketakwaan dalam hati itu lebih bernilai dan menentukan di sisi Allah dari segala hal yang bersifat materi. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al-hujurat:13) 


Takwa dan akhlak mulia


Ketakwaan dalam hati adalah kunci memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dan ketakwaan tidaklah tercermin dari penampilan luar. Karena ketakwaan itu ada dalam hati, dan hanya diketahui oleh Allah Swt. 

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian. (HR. Muslim) 

Ketakwaan memang tak terlihat namun ia bisa terpancar dari tingkah laku seorang muslim, semakin tinggi imannya semakin baik pula akhlaknya. 

 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِ.

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya. 

So, penampilan dan pakaian bukanlah tolok ukur ketakwaan pada Allah. Jadi tidaklah bijak jika kita menilai seseorang dari dua hal tersebut. Apalagi menganggap bahwa nilai kita di sisi Allah lebih baik dari orang lain. 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari uraian ayat dan hadits di atas:

1. Tidak boleh menilai orang lain dari penampilan luarnya karena kalau tidak benar maka bisa jatuh pada perbuatan suudzon. 

2. Ketakwaan tidak ditentukan oleh penampilan luar. Seperti cover sebuah buku, ia tidak menentukan kualitas buku. 

3. Ketakwaan dicerminkan oleh akhlak yang mulia. 

4. Tidak boleh merasa lebih baik dari muslim lainnya. 

5. Pakaian dan penampilan memang bukan tolok ukur ketakwaan. Tapi pakaian dan penampilan yang baik digunakan semata untuk menjalankan perintah agama, sebagai bagian dari syiar, sebagai jembatan menuju proses menjalankan agama dengan lebih baik. 

6. Akhlak dan pnampilan yang baik adalah sama- sama penting. Yang penampilannya sudah baik dan sesuai syar'i  seyogyanya harus tetap mengedepankan akhlak  sebagai hal yang paling utama. 

Dan yang belum berpenampilan baik harus belajar memperbaiki penampilannya untuk menyempurnakan kewajiban dan syiar agama. 

So, demikian ulasan mengenai artikel jangan melihat buku dari covernya. Semoga bermanfaat.... 






SIMFONI DZIKIR DAN TAFAKUR LUHUR





Tafakur


Apa yang sahabat pikirkan ketika melihat foto bumi atau galaksi-galaksi di luar angkasa seperti ini? 

Indah.....Maha karya luar biasa. 


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ   
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Al-imran : 190) 


Dalam kesibukan rutinitas sehari-hari kadang kita terkungkung di dalamnya, benak pikiran hanya penuh dengan agenda pekerjaan, beradu dengan segala macam kesibukan orang-orang sekitar. 

Mari sejenak arahkan pandangan kita ke langit malam, saat cahaya bulan dan bintang berpendar cahaya temaram dalam kelam, di antara barisan awan yang berjalan berbaris perlahan. 

Mari sesaat renungkan, bagaimana pemandangan eksotis itu tercipta ketika siang berganti malam. Matahari terbenam dan muncul bulan dan bintang. 

Ini contoh sederhana dari tafakur. 

Tafakur adalah berpikir, merenungkan. Dan yang dimaksud merenungkan di sini adalah  merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah (alam semesta). 

Tafakur luhur yang melahirkan rasa syukur. Syukur yang melahirkan cinta dan ketundukan hamba pada Sang Pencipta. 

Orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada ayat-ayat-Nya. 

Ayat-ayat Allah ada yang tertulis dalam kitab suci disebut dengan ayat-ayat naqliyah. Ada pula yang tersebar di seluruh jagad raya, yang bisa kita lihat atau kita teliti itu disebut dengan ayat-ayat kauniyah. 

Kesemuanya ayat-ayat itu menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan keesaan-Nya. 
Rasa Saw bersabda:

تفكروا في خلق الله ولا تتفكروا في ذات الله

Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang dzat Allah

Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh manusia dalam bertafakur. Yakni objek tafakur itu hanya terbatas pada ciptaan Allah. Jangan sampai melebihi batas kemampuan manusia untuk menjangkaunya, yaitu bertafakur tentang dzat Allah. Karena bagaimanapun cerdasnya otak manusia ia takkan mampu mencerna dan memahami secara ilmiah tentang dzat Tuhan Yang Maha Besar. 


Simfoni indera dan hati



Pada dasarnya manusia diberikan penglihatan, pendengaran dan segala inderanya  adalah sebagai potensi luar biasa untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di mana-mana. 

Bahkan di diri mereka sendiri terdapat jutaan keajaiban yang mempesona. 

Dalam surat Fusshilat ayat 53 :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ 
Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami di penjuru ufuk dan di dalam diri mereka sehingga tampak kepada mereka bahwa Alquran itu adalah benar

Tafakur bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Hanya perlu menajamkan mata penglihatan dan mata hatinya. 

Namun sayangnya banyak sekali yang menyia-nyiakan potensi tesebut dan malah menyalahgunakan fungsinya ke hal-hal yang dilarang agama. Seperti mata digunakan untuk melihat maksiat, telinga untuk mendengar ghibah, mulut untuk bergunjing, dan lain-lain. 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Hati adalah kunci aktivitas tafakur.  

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa orang yang tak mau bertafakur sejatinya tidak ada kerusakan apapun pada inderanya. Semua inderanya normal seperti biasa. 

Namun ketika hatinya tertutup oleh dosa maka mata hatinya menjadi buta. Dan ketika mata hatinya buta maka indera penglihatannyapun seolah buta, tak bisa melihat kebenaran dan tanda-tanda kebesaran IlahiIlahi di sekitarnya. 


Simfoni dzikir dan tafakur



الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النار

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 

Allah berfirman dalam surat al-imran ayat 191  bahwa ada keterkaitan antara dzikir dan tafakur. 

Dzikir akan mengarahkan hati dan seluruh indera bertafakur. 

Dzikir seperti air yang membersihkan noda dan kotoran yang menutupi hati, membuka tabir menuju cahaya Ilahi. Sehingga mata hati menjadi tajam kembali. 

Semakin sering dzikir dibaca semakin terbuka hati pembacanya. Semakin banyak dzikir dibaca semakin terang oleh nur Rabbani. 

Orang yang ingin mendapat cahaya iman akan memperbanyak dzikir di waktu apapun, saat berdiri, duduk, berbaring atau sambil melakukan aktivitas sehari-hari. 

Ketika hati terbuka, dipenuhi cahaya Rabbani maka seluruh inderanya akan berfungsi dengan baik. Segala yang tampak akan terarah pada kebesaran dan keagungan Allah Swt. 

Sebaliknya tafakur akan kekuasaan Allah mampu meningkatkan kualitas dzikir, menambah kekhusyukan dan kerinduan. 

Dzikir dan tafakur seperti dua simfoni yang saling menyempurnakan. 

Karenanya pada ayat tersebut Allah mendorong manusia untuk berdzikir dan bertafakur dalam rangka bertaqarrub pada-Nya dan memperoleh ridha-Nya. 

Demikianlah ulasan tentang dzikir dan tafakur. 

Semoga bermanfaat..... 


Kamis, 26 November 2020

DAHSYATNYA DZIKIR MENGINGAT ALLAH

 


Dzikir penyambung hati dengan Sang Pencipta


Dzikir itu apa sih? 

Dzikir secara bahasa berarti mengingat, menyebut atau menuturkan. 

Nah, secara istilah dzikir adalah aktivitas hati dan lisan yang mengingat serta memuji Allah secara berulang-ulang dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh agama. 

Berdzikir hukumnya sunnah dan keutamaannya sangat besar apabila diresapi dan diistiqamahkan sebagai amalan sehari-hari. 

Menurut Imam Athoillah, dzikir ada dua macam:
a. Dzikir jali, yaitu dzikir yang dilakukan oleh hati dan lisan secara bersamaan dengan tujuan agar lisan bisa menuntun gerakan hati untuk tunduk dan ikhlas kepada-Nya. 
b. Dzikir khafi, yaitu dzikir hati, menggerakkan hati untuk terus-menerus ingat pada Allah. Segala yang dilihat, didengar atau dirasakan semuanya kembali pada Allah karena hati disiapkan untuk selalu terhubung kepada Allah. 

Jadi, inti dari dzikir adalah hati yang tersambung kepada Allah, dan sambungan itu terwujud melalui puji-pujian atau bacaan-bacaan dzikir yang menghadirkan cinta dan syukur. 

Semua manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk selalu terhubung kepada  Sang Maha Pencipta. Namun potensi itu akan terkikis bila hati terlalu sibuk dan dipenuhi rasa cinta duniawi. 

Karenanya hati perlu diasah dan dibersihkan dengan bacaan-bacaan dzikir agar bisa tersambung kembali dan menemukan kembali arti hidup yang telah dianugerahkan Penciptanya. 

Allah Swt mengingatkan manusia untuk  memperbanyak dzikir. Mengingat dan menyebut nama-Nya. Sebagai bagian rasa syukur atas segala karunia-Nya dan sebagai jalan untuk memperoleh rahmat dan ridha-Nya.  
Dalam surat al-ahzab ayat 41-42 Allah berfirman:

يآيها الذين امنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا . وسبحوه بكرة وأصيلا

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Dzikir bisa dilakukan kapan saja, tak ada batas waktu. 

Namun ada waktu-waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa dan berdzikir, yaitu:

a. Di waktu pagi dan petang. 
Sesuai ayat di atas, maka pagi dan petang adalah salah satu waktu terbaik untuk berdzikir. 

Rasulullah Saw memiliki kebiasaan berdzikir khusus pada dua waktu ini dengan doa-doa khusus pula, di antaranya adalah membaca surat al-ikhlas, muawwidzatain, ayat kursi, dan doa khusus pagi dan petang. 

b. Setelah sholat fardhu. 
Waktu sehabis sholat fardhu dikenal sebagai waktu yang mustajab (waktu dikabulkannya doa). Oleh karena itu disunnahkan memperbanyak dzikir saat selesai sholat. 


فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ۚ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. 

Sesuai ayat di atas dzikir bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, berbaring atau tidur-tiduran, sambil melakukan pekerjaan, mengasuh anak dan sebagainya. 


Dzikir menangkal godaan setan



Selain itu dzikir juga berfungsi sebagai penangkal gangguan dan godaan setan yang tak lelah menggoda manusia agar jatuh dalam jurang kenistaan. 

Hati yang kosong dan lengah biasanya akan mudah terpedaya. 

Berapa banyak manusia yang tertipu oleh muslihatnya dan berakhir binasa dalam kesengsaraan dan penyesalan di akhirat. 

Allah Swt berfirman dalam surat Fathir : 6

إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا۟ حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا۟ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala

Setan adalah musuh manusia. Ia akan menggunakan berbagai cara licik untuk menggelincirkan manusia ke neraka. Ia bisa membungkus keburukan dengan kebaikan,  kejahatan dengan keindahan. 

Godaan setan biasanya terbungkus hal-hal yang indah dan menjanjikan kesenangan duniawi. Namun kesenangan itu hanya sementara karena pasti berakhir sengsara. 

Hati yang dipenuhi dzikir akan mampu mendeteksi dengan tajam segala bentuk rayuan setan, ia akan waspada terhadap perangkap-perangkapnya dan selamat dari tergelincir. 


Dzikir obat gundah gulana


Sering kali hati sedih tak karuan bukan karena beratnya masalah yang diemban, batin merana penuh gundah gulana bukan karena nestapa, jiwa menderita bukan karena pedihnya kehidupan

Tapi karena kosongnya hati dari cahaya Ilahi, sepinya jiwa dari sentuhan petunjuk dan rahmat Yang Kuasa. 

Coba kita lihat berita, berapa banyak selebriti terkenal yang bertabur kekayaan dan popularitas, miliarder-miliarder yang berlimpah harta dan takkan habis dimakan tujuh turunan, orang-orang berkuasa yang digjaya dan  memiliki segalanya namun akhirnya mati tragis karena bunuh diri dan depresi. 

Ada apa di sana? 

Ternyata kebahagiaan sejati itu tak datang bersama harta, kekayaan melimpah, popularitas atau kekuasaan. Kebahagiaan di dalamnya hanya kebahagiaan semu, yang begitu cepat hilang dan berganti gulana. 

Kebahagiaan hakiki ada bersama cahaya Ilahi, dalam ketakwaan dan dzikrullah. Selalu mengingat Allah. 
  
Dalam surat ar-ra'd :28 Allah Swt berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Dzikir pembawa ketentraman


Hati yang tentram, batin tenang dan hidup penuh kebahagiaan adalah harapan semua orang. 

Namun coba kita perhatikan di sekitar kita, orang yang hidup serba kekurangan tanpa kekayaan atau popularitas, setiap hari pergi bekerja ke ladang milik orang lain, tidur beralas tanah dan beratapkan langit justru terlihat bahagia? Wajahnya cerah dan hidupnya tentram. 

Bagaimana bisa begitu?

Ya. Karena ternyata kebahagiaan hakiki tak tergantung pada kekayaan atau kedudukan. Kebahagiaan adalah anugerah yang diberikan pada hati yang bersyukur. Syukur lahir dengan berdzikir. Dzikir memupuk rasa syukur dan berbuah ketakwaan. 

Dengan dzikir bumi akan terasa lapang dan bersahabat, jalan hidup akan terasa penuh berkah dan rahmat, hidup berlimpah rasa aman dan tentram. InsyaAllah. 

Sesuai dengan potongan ayat:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-jumuah: 10) 

Jadi kalau merasa hati sempit, galau, bete. Jangan-jangan itu karena kita lalai untuk mengingat Allah Sang Pemberi hidup. 


Dzikir pembawa rezeki


Pernahkah merasa rezeki seret? Hidup sangat sulit? Kesuksesan sukar sekali digapai? 

Jangan-jangan karena kita tak lagi ingat kalau rezeki dan kesuksesan adalah berasal dari Allah. 

Kita mati-matian mengejarnya tapi melupakan Allah. 

Allah Swt Sang Maha Pemberi rezeki sangat pemurah terhadap hamba-Nya, namun Allah sering mengingatkan hamba-Nya dengan cara memberi teguran. Rezeki seret, hidup serba susah adalah teguran dari Allah agar kita ingat pada-Nya. 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (At-thalaq : 2-3) 

Allah berjanji bahwa orang yang bertakwa pada-Nya akan diberi jalan keluar, rezeki yang cukup meskipun dari berbagai jalan yang tidak disangka-sangka. 

Meskipun rezeki itu tidak banyak namun cukup dan berkah. Bukankah rezeki yang cukup tak berarti harus banyak? Bukankah rezeki yang banyak belum tentu cukup jika tidak dicukupkan oleh Allah? 

Nah, rezeki yang cukup dan berkah seperti ini akan diberikan pada orang-orang yang menjadikan Allah Swt nomor satu, selalu menyebut nama-Nya sebelum mencari rezeki di muka bumi. 


Dzikir berbuah husnul khatimah



Dzikir memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah orang yang istiqomah berdzikir selama hidupnya akan dimudahkan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. 

Husnul khatimah adalah akhir yang baik. Meninggal dengan membawa iman dan Islam, saat ajalnya tiba ia berada dalam keadaan ingat pada Allah. 

Itulah akhir hidup yang mulia. Kematian menjadi hal yang dirindukan karena akan bertemu dengan Sang kekasih yaitu Allah Swt yang selama hidupnya selalu diingat dan disebut.

    من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه، ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه

Barang siapa ingin bertemu dengan Allah maka Allah juga ingin bertemu dengannya. Dan barang siapa tidak suka bertemu dengan Allah maka Allahpun tidak suka bertemu dengannya. HR. Bukhari

Mengapa orang mukmin yang bertakwa dan suka berdzikir ingin bertemu dengan Allah? Karena bertemu Allah adalah sebaik-baik nikmat, hadiah terindah di akhirat. 

Mendapat tempat istimewa di sisi Allah


Orang yang berdzikir kepada Allah memperoleh keistimewaan yang tidak tanggung-tanggung.  Setiap ia mengingat Allah maka Allah akan mengingatnya dengan melimpahkan rahmat-Nya dan membersamai langkahnya. 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-baqarah : 152) 



Apa saja bacaan-bacaan dzikir itu? 



Bacaan dzikir ada banyak sekali. Namun ada beberapa bacaan dzikir yang singkat namun memiliki keutamaan luar biasa. Di antaranya adalah:

1. Tasbih/  سبحان الله  dalam redaksi yang lain سبحان الله العظيم

Tasbih artinya Maha Suci Allah, yaitu menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. 

2. Tahmid/ الحمدلله 
Tahmid artinya segala puji bagi Allah, yaitu bersyukur dan memuji Allah. 

3. Takbir/ الله اكبر
Takbir artinya Allah Maha Besar, yaitu mengagungkan Allah. 

4. Istighfar/ استغفرالله العظيم
Istighfar artinya Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yaitu memohon ampun atas dosa yang diperbuat. 

5. Tahlil/ لااله الاالله
Tahlil artinya membaca kalimat tauhid, yaitu mengesakan Allah. 

6. Hauqalah/ لاحول ولا قوة الا بالله
Hauqalah artinya tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah, yaitu memohon pertolongan Allah. 

Rasulullah Saw bersabda:

قال الا أعَلِّمُكُمْ خَمْسَ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ‏ عَلَى‏ اللِّسَانِ،‏ ثَقِيلَاتٍ فِي  الْمِيزَانِ، يَرْضَيْنَ الرَّحْمَنَ، وَيَطْرُدْنَ الشَّيْطَانَ، وَهُنَّ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ وَمِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ، وَهُنَ‏ الْباقِياتُ الصَّالِحاتُ؟". قَالُوا:     بَلَى يَا رَسُولَ الله

فَقَالَ "قُولُوا سُبْحَانَ الله، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله، وَالله أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ".. ثم َقَالَ صلى الله عليه وسلم: "خَمْسٌ بَخٍ بَخٍ لَهُنَّ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ".

Nabi berkata: maukah ku ajarkan lima kalimat yang ringan di lidah dan berat di timbangan, Allah meridhainya, bisa mengusir setan, dan termasuk perbendaharaan surga, dari bawah Arsy, dan termasuk albaqiyat ash-shalihat?. Mereka menjawab: ya wahai Rasulullah, Nabi berkata: katakanlah subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allohu akbar, la haula wa la quwwata illa billah alaliyyil adzim. Kemudian Nabi berkata: lima berlimpah berlimpah sungguh berat timbangannya di mizan ". HR. Bukhari

Demikianlah uraian tentang dahsyatnya dzikir. 

Semoga kita bisa mengamalkan bersama-sama......... 







Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah

  Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik.  Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau ...