Hijrah berarti tekad menuju kehidupan yang lebih baik, dalam hal spiritual, kehidupan bermasyarakat maupun taraf ekonomi.
Menilik sejarah, kaum Muhajirin yang membersamai Nabi dalam berhijrah. Menangguhkan rasa berat hati meninggalkan keluarga di Mekah demi perjuangan Islam pada akhirnya mendapatkan penghargaan tinggi dari Allah.
Nama mereka disebutkan berkali-kali dalam Al-quran sebagai orang-orang yang tangguh dan patut diteladani. Di antaranya surat An-nahl ayat 41:
والذين هاجروا في الله من بعد ما ظلموا لنبوئنهم في الدنياحسنة ولاجر الاخرة اكبر لو كانوايعلمون
Dan orang-orang yang hijrah karena Allah setelah mereka didzalimi maka akan Kami berikan tempat yang bagus di dunia. Dan sungguh pahala di akhirat itu lebih besar. Sekiranya mereka mengetahui.
Dan sebaliknya umat Islam yang mengabaikan perintah hijrah karena enggan dan lalai serta lebih mementingkan keluarganya, Allah mengecamnya dalam surat An-nisa ayat 97:
ان الذين توفىهم الملئكة ظالمي انفسهم قال فيم كنتم قالواكنامستضعفين في الارض قالوا الم تكن ارض الله واسعة فتهاجروافيها فاولئك ماواهم جهنم وساءت مصير
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri. Malaikat berkata pada mereka: dalam keadaan apa dirimu?, mereka berkata: kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi/Mekah. Malaikat berkata: bukankah bumi ini luas sehingga kamu bisa hijrah di dalamnya?. Mereka itu tempatnya adalah neraka Jahannam, dan neraka Jahannam adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
Konteks hijrah
Jadi, hijrah itu hukumnya wajib?
Ya, jika ada perintah dari Allah Swt sebagaimana kaum Muhajirin, atau ketika keadaan mewajibkan hijrah seperti untuk menyelamatkan akidah, menyelamatkan diri dari bahaya dan menjemput rezeki.
Tapi bagi orang yang tidak memiliki kewajiban sebagaimana di atas hukumnya adalah mubah. Bahkan jika tinggal di tanah kelahiran bersama sanak keluarga itu manfaatnya lebih besar maka justru pahalanya jauh lebih besar. Seperti untuk merawat orang tua, mengelola aset yang dimiliki, mengajar dan memajukan masyarakat setempat dan lain-lain.
Bumi Allah yang luas
Allah Swt menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Dari timur ke barat, utara ke selatan. Tanpa ada sekat dan batas. Di titik manapun boleh didiami.
Bumi diciptakan dengan sangat indah, berbagai panorama alam yang mempesona dan tak ditemukan di planet lainnya.
Allah Swt senang bila keindahan bumi itu dinikmati, diambil manfaatnya dan disyukuri. Namun bukan hanya keindahannya saja, melainkan karunia dan rezeki yang disebar di atas bumi itu harus dicari.
Karenanya Allah menganjurkan manusia untuk berjalan di muka bumi yang luas, bereksplorasi, menikmati keindahannya, mencari rezeki dan karunia-Nya.
Ketika hidup sempit, ekonomi terpuruk, hubungan sosial tak harmonis, jatuh bangun tak ada kemajuan. Mungkin itulah saatnya melakukan hijrah, sebagai salah satu solusi masalah.
Hijrah ke tempat lain memang tidak wajib, hanya sebagai alternatif yang dianjurkan. Karena bumi Allah sangatlah luas.
Allah berfirman tentang hal ini di beberapa ayat, salah satunya adalah di surat Al-ankabut ayat 56:
ياعبادي الذين امنوا ان ارضي واسعة فاياي فاعبدون
Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman sesungguhnya bumiku luas, maka hanya sembahlah aku
Allah Swt menyiratkan bahwa tak ada yang perlu ditakutkan. Karena timur, barat dan seluruh penjuru muka bumi adalah milik Allah.
Ketika Allah menganjurkan sesuatu maka disitu terdapat hikmah, seperti yang dijanjikan oleh Allah dalam hijrah yaitu tempat hijrah yang luas dan rezeki yang lapang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar