Makna Tirakat
Pernah mendengar kata tirakat?
Apa sih tirakat itu?
Nah, di sini penulis akan mencoba menguraikan makna tirakat dengan ringan dan sederhana dari sudut pandang Islam.
Tirakat sering dikaitkan dengan ritual atau laku adat Jawa, sehingga disebut dengan tirakat Kejawen. Tirakat juga sering disalahartikan sebagai bertapa untuk memperoleh kesaktian, jabatan atau popularitas.
Mungkin ada sebagian orang yang memang menggunakan tirakat dengan laku adat-istiadat untuk hal-hal tersebut.
Namun tirakat dalam Islam itu berasal dari kata thariqah yang secara bahasa bermakna jalan.
Maka tirakat dapat didefinisikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan berbagai bentuk ibadah wajib dan sunnah dengan tujuan untuk menggapai ridho-Nya.
Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi :
من عادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَُّّه « رواه البخاري
barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya
Jadi inilah tirakat dalam sudut pandang Islam, bukan bertapa atau semedi ya...
Bentuk-Bentuk Tirakat
Sebagaimana hadits di atas dijelaskan bahwa tirakat adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan wajib dan sunnah baik ibadah mahdhah (pribadi) maupun ghoiru mahdhah (sosial) seperti menjaga sholat berjamaah setiap hari, puasa sunnah, sholat sunnah, membaca Al-Quran, berdzikir, bersedekah, menyantuni anak yatim dan orang fakir miskin dan lain-lain.
Tirakat harus didasari rasa cinta kepada Allah, terus memupuk cinta dengan ketaatan sehingga Allah mencintai hamba-Nya dan memberikan tempat istimewa di sisi-Nya.
Ada yang berpendapat bahwa tirakat itu berasal dari kata taroka yang artinya meninggalkan.
Yaitu meninggalkan kecintaan duniawi dan meniti kecintaan ukhrawi.
Karenanya terkadang bentuk tirakat adalah berupa usaha dengan penuh kesungguhan hati untuk meninggalkan ambisi, amarah, iri dengki dan cinta duniawi.
Yang kemudian menjelma menjadi rasa ikhlas, qana'ah (menerima), 'iffah (menjaga kehormatan), tawakkal (pasrah), sabar terhadap cobaan dan ujian, serta tabah dan tegar dalam menjalani kehidupan.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada ketakwaan di dada dan berbuah akhlak mulia.
Tirakat Dan Tasawuf
Tirakat adalah bagian dari tasawuf.
Tirakat merupakan usaha untuk dekat dengan Sang Maha Pencipta. Karena itu tirakat merupakan kata lain dari riyadhoh atau mujahadah.
Riyadhoh secara bahasa adalah latihan. Sedangkan mujahadah adalah bersungguh-sungguh.
Riyadhoh dan mujahadah dilakukan untuk melatih diri secara konsisten dengan melakukan amalan-amalan yang disyariatkan untuk membersihkan hati dan membangun ikatan yang kuat dengan Sang Khalik.
Apa Manfaat Tirakat?
Satu tujuan yang diingin dicapai oleh orang yang bertirakat yaitu ridha Allah.
Ketika Allah Swt ridha dan dekat dengan hamba-Nya maka Ia akan menuntun dan menjadi seluruh panca indra dan anggota badannya baik penglihatan, pendengaran, pengucapan, tangan, kaki bahkan relung hatinya.
Hidupnya dijalani dengan petunjuk dari Allah, dengan rahmat dan ridha-Nya.
Itulah kebahagiaan hakiki yang didambakan orang-orang yang be-riyadhah atau bertirakat.
Allah Swt berfirman dalam surat
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Dalam ayat tersebut Allah Swt menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh mendekati-Nya dan ingin memperoleh ridha-Nya maka Allah akan menunjukkan jalan baginya.
Ketika seorang hamba telah berjalan di jalan-Nya dan memperoleh ridha-Nya maka sesuai janji Allah Dia akan melindungi, merahmati dan mengabulkan segala permintaannya.
Orang-orang yang suka bertirakat dan mendekatkan diri kepada Allah biasanya akan dianugerahkan keturunan yang sholeh, diberikan kelapangan rizki, urusannya dimudahkan dan hidupnya dimuliakan.
Dekat kepada Allah adalah tujuan utama, dan hajat yang disampaikan oleh Allah adalah bonus yang akan mengiringinya.
Tirakat Cinta
Para ulama terdahulu mengajarkan kita untuk bertirakat, tidak terlena dengan kehidupan duniawi yang bisa melalaikan pada kehidupan ukhrawi.
Setiap manusia memiliki potensi untuk dekat dengan Rabb-nya. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh ridha Rabb-nya.
Para ulama menyadari anugerah tersebut dan memanfaatkan sebaik-baiknya dengan bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan bertirakat.
Karena sudah menjadi kebiasaan dalam hidup akhirnya setiap mereka memiliki hajat mereka akan meningkatkan kadar tirakat.
Seperti untuk mendoakan kesuksesan anak-anaknya, kesuksesan suaminya, keselamatan keluarganya, kemudahan rizki dan lain sebagainya.
Nah, inilah salah satu rahasia sukses para ulama terdahulu yang senantiasa bertaqarrub kepada Allah....
Dengan tirakat mereka mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Mari sahabat pembaca, kita ikuti laku dan langkah mereka....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar