Rabu, 18 November 2020

Jangan Pernah Menyerah

 


Never give up! 

Jangan pernah menyerah, adalah seruan Al-Quran pada manusia beriman agar menjadi pejuang tangguh dalam menggapai cita-cita. 


Sang juara

Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan berbagai potensi luar biasa untuk melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi. 

Potensi tersebut dibawa sejak lahir dan akan terasah dengan pengalaman hidup, pendidikan dan tempaan yang terus menerus dilakukan. 

Setiap manusia memiliki potensi juara, pemenang nomor satu. 

Karena saat ia diciptakan pertama kali, ia merupakan sel sperma yang berenang bersama sel-sel sperma lainnya menuju sel telur dalam proses pembuahan. 

Dalam kompetisi ketat inilah sel sperma yang berhasil masuk dan membuahi sel telurlah yang menjadi pemenang dan siap menjadi  embrio dalam rahim. 

Jadi pada dasarnya manusia yang lahir adalah seorang juara. Dan dengan bimbingan Al-Quran ia bisa menjadi juara dunia maupun di akhirat. 

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Qiyamah : 37:

ألم يك نطفة من مني يمنى

Bukankah ia dulu adalah setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim? 

So, mengingat awal penciptaan manusia ini harus memberi semangat besar bagi kita untuk berjuang memperoleh kesuksesan serta ridho Tuhan yang InsyaAllah mampu kita capai. 


Putus asa


Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, begitu kata peribahasa. 

Namun peluang hanya datang satu kali, begitu kata peribahasa lainnya. 

Kedua peribahasa ini sepatutnya  saling melengkapi. 

Peribahasa pertama mengungkapkan bahwa manusia jangan terpuruk dalam kegagalan. Jangan menyerah, kembali bangkit dan terus berusaha. karena di balik ribuan kegagalan ada kesuksesan yang menanti. 

Namun jangan terlena dalam kegagalan sehingga jadi terbiasa gagal. 

Jalan keluarnya adalah secepatnya meningkatkan upaya dan kemampuan serta memperbaiki kualitas diri. Terus berusaha sekuat tenaga. Terus berdoa segenap jiwa. 

Nah, Kesuksesan yang didapat setelah itu barulah disebut  kesuksesan yang tertunda. 

Hanya saja, sebagai manusia kita tak luput dari rasa sedih dan sesal saat kita gagal. Patah semangat dan bisa jadi akhirnya berujung pada rasa putus asa. 

Putus asa itu apa? 

Putus asa adalah keyakinan bahwa asa kita takkan pernah tercapai. Berhenti berusaha,  penuh rasa marah dan menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan Tuhan. 

Putus asa ini sangat tidak disukai oleh Allah. Allah mengecam perbuatan putus asa sebagai perbuatan orang tak beriman. 

ولا تيأسوا من روح الله   إنه لا ييأس من روح الله إلا القوم الكافرون

Dan janganlah kamu putus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya tak ada yang putus asa terhadap rahmat Allah kecuali orang-orang kafir. 

Nah, putus asa pada ayat ini diidentikkan pada perbuatan kufur. Karena ketika manusia putus asa ia seolah mengingkari kekuasan Allah, dan rentan terhadap pengingkaran yang lebih besar. 

Allah Swt mengharamkan putus asa pada manusia karena hal itu akan merugikan diri mereka sendiri. 


Mental Juara vs Mental Tempe


Al-Quran mengarahkan manusia beriman untuk menjadi manusia tangguh, punya mental pemenang. 

Untuk memiliki mental juara tentu harus lolos berbagai tes dan ujian. 
Tak mungkin seseorang menjadi juara tanpa latihan dan kerja keras. Karena hasil takkan pernah mengingkari usaha dan kerja keras. 

Semakin keras seseorang berusaha semakin banyak pengalaman yang didapat serta semakin banyak kiat dan strategi yang dimiliki. 

Ujian, latihan dan kegagalan adalah jalan yang harus dilalui untuk menjadi manusia tangguh. 

Manusia tangguh tak pernah menyerah terhadap kegagalan. Justru setiap kali gagal ia akan berusaha lebih keras, lebih keras dan lebih keras lagi. 

Thomas Alva Edison adalah salah satu contoh manusia tangguh yang perlu ditiru. Penemu bola lampu pijar yang mempunyai sejarah kesuksesan setelah mengalami kegagalan percobaan sebanyak 9000 kali.  

Wow, kebayang tidak? 9000 kali percobaan. 

Tapi ia tidak menyerah, dan itulah kunci keberhasilannya. 

Akhirnya ia menemukan salah satu penemuan besar yang mengubah dunia. 

Tidak menyerah dan kerja keras adalah jargon manusia bermental tangguh siapapun itu, tidak bergantung pada kecerdasan semata. 

Menurut Thomas Alva Edison "jenius adalah satu persen, inspirasi dan keringat adalah sembilan puluh sembilan persen. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras". 

Ada mental tangguh ada juga mental kerdil atau mental tempe.

Pernah tidak mendengar istilah mental tempe? 

Ya, istilah ini pernah disebutkan oleh presiden pertama RI Bapak Sukarno yang menyebut bahwa Indonesia bukanlah bangsa tempe. 

Tempe adalah salah satu makanan bergizi asli Indonesia. Tanpa mengecilkan kualitas  tempe sebagai makanan bergizi penyebutannya dalam istilah mental tempe mengandung konotasi lemah, lembek, cengeng, dan mengandalkan orang lain. Karena dalam pembuatan tempe memang membutuhkan tambahan ragi untuk proses fermentasi. 

Bila kita ingin menang tanpa kerja keras, tak mau melalui kegagalan, tak bisa menerima kekalahan, satu dua kekalahan sudah akan menghentikan langkah dan membuat putus asa maka kita bisa disebut sebagai orang bermental tempe. 

Putus asa, tidak percaya diri dan cepat menyerah adalah hal-hal yang sering dilakukan oleh manusia bermental tempe. 

So, pelajarannya orang yang sukses itu ternyata tidak memperoleh kesuksesannya secara instan ya. 

Harus melalui pengorbanan waktu, biaya, kerja keras dan latihan tak kenal lelah. 

Semoga ini jadi pelajaran bagi kita. Suka bekerja keras, tidak gampang menyerah dan putus asa lagi...... 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sakit Adalah Nikmat Atau Musibah

  Sakit adalah hal manusiawi. Ia merupakan pertanda bahwa kita masih hidup dan mempunyai fisik.  Yang namanya sakit tak ada yang enak. Mau ...